July 29th, 2010

sahabat

kaulah yang menaruh bintang di mata, hatiku

kau tak pernah meningalkan ku

mungkin sesaat aku tak meliaht mu di bawah matahari

tapi ketika saat malam tiba

kau menjelma menjadi pelita

di lorong gelap dan berdebu

sahabat

kaulah bintang sejati

yang tertawa, menangis bersama

dan tak henti berkelip di dalam langit hidup ku.

July 29th, 2010

puisi gak jelas

kosong hanya itu yang kurasa saat ini

tak ada angan tak ada bayang

bibir terkunci tak bisa berucap

hanya tangan yang berbicara

diats kertas putih ku goreskan isi hati yang tak berarti

tuk sekedar membuang rasa sepi

ku lihat dedaunan tak lagi bergoyang

telah lama tak kurasa udara berhembus

setelah semua harapan indah ku pupus

jatuh bersama tetesan air mata..

July 28th, 2010

teknologi informasi terbaru

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI : KONSEP DAN PERKEMBANGANNYA1

Hari Wibawanto

Teknik Elektro Fakultas Teknik

Universitas Negeri Semarang

Pendahuluan

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara umum adalah semua yang teknologi berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan (akuisisi), pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 6). Tercakup dalam definisi tersebut adalah semua perangkat keras, perangkat lunak, kandungan isi, dan infrastruktur komputer maupun (tele)komunikasi. Istilah TIK atau ICT (Information and Communication Technology), atau yang di kalangan negara Asia berbahasa Inggris disebut sebagai Infocom, muncul setelah berpadunya teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya) dan teknologi komunikasi sebagai sarana penyebaran informasi pada paruh kedua abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang sangat pesat, jauh melampaui bidang-bidang teknologi lainnya. Bahkan sampai awal abad ke-21 ini, dipercaya bahwa bidang TIK masih akan terus pesat berkembang dan belum terlihat titik jenuhnya sampai beberapa dekade mendatang. Pada tingkat global, perkembangan TIK telah mempengaruhi seluruh bidang kehidupan umat manusia. Intrusi TIK ke dalam bidang-bidang teknologi lain telah sedemikian jauh sehingga tidak ada satupun peralatan hasil inovasi teknologi yang tidak memanfaatkan perangkat TIK.

Membicarakan pengaruh TIK pada berbagai bidang lain tentu memerlukan waktu diskusi yang sangat panjang. Dalam makalah ini, kaitan TIK dengan proses pembelajaran disoroti lebih dibanding dengan kaitannya dengan bidang lain. Tanpa mengecilkan pengaruh TIK di bidang lain, bidang pembelajaran mendapatkan manfaat lebih dalam kaitannya dengan kemampuan TIK mengolah dan menyebarkan informasi.

Perkembangan TIK

Bila dilacak ke belakang, terdapat beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap eksistensi TIK saat ini. Pertama adalah temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penggelaran jaringan komunikasi dengan kabel yang melilit seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Inilah infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, terealisasi transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama (Lallana, 2003:5). Komunikasi suara tanpa kabel segera berkembang pesat, dan kemudian bahkan diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943, yang kemudian diikuti oleh tahapan miniaturisai komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947, dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957. Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan soko guru TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era perang dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (eks Uni Sovyet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer, dan terus berevolusi sampai saat ini.

Di lain pihak, perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat mulai diimplementasi-kannya teknologi digital menggantikan teknologi analog yang mulai menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang dari awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi inilah kandungan isi (content) berupa multimedia, mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi-komputasi-multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi-komputasi-multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.

Indonesia pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk maksud yang kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta Dictionary mendeskripsikan telematics sebagai telecommunication+informatics (telekomunikasi+informatika) meskipun sebelumnya kata itu bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan, sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat, juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library dan sebagainya. Awalan e- bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital.

Kebijakan Nasional bidang TIK

Menyadari pentingnya TIK sebagai bidang yang berperan besar dalam pembangunan nasional, Kementerian Negara Riset dan Teknologi memberikan arahan sektor-sektor yang diprioritaskan untuk dikembangkan melalui kegiatan riset, antara lain: infrastruktur informasi, perangkat lunak, kandungan informasi (information content), pengembangan SDM dan kelembagaan, pengembangan regulasi dan standarisasi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 5).

Infrastruktur Informasi

Infrastruktur informasi terdiri atas beberapa aspek yang seluruhnya harus dibangun secara paralel dan saling menunjang. Aspek pertama adalah jaringan fisikyang berfungsi sebagai jalan raya informasi baik pada tingkat jaringan tulang-punggung maupun tingkat akses pelanggan. Jaringan tulang punggung harus mampu menghubungkan seluruh daerah Indonesia sampai wilayah pemerintahan terkecil. Pada tingkat akses pelanggan harus memungkinkan tersedianya akses yang murah dan memadai bagi masyarakat luas.

Aspek kedua menekankan pada kemanfaatan sebesar-besarnya pengelolaan sumber informasi bagi seluruh komponen masyarakat. Kondisi ini dapat dicapai melalui diwujudkannya interoperabilitas sumber daya informasi yang tersebar luas sehingga dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif oleh seluruh pemangku kepentingan.

Aspek terakhir adalah pengembangan perangkat keras, baik di sisi jaringan maupun di sisi terminal. Pengembangan ini harus dirancang berdasarkan kebutuhan dan kondisi jaringan yang ada di Indonesia, dengan mengadopsi sistem terbuka dan menanamkan tingkat kecerdasan tertentu untuk memudahkan integrasi sistem dan pengembangannya di masa depan.

Perangkat Lunak

Pengembangan perangkat lunak diarahkan pada realisasi sistem aplikasi yang mampu menunjang proses transaksi ekonomi yang cepat dan aman, serta pengambilan keputusan yang benar dan cepat. Harga yang terjangkau dan daya saing pada tingkat internasional merupakan salah satu kriteria yang dipersyaratkan, khususnya mendukung kebijakan substitusi impor.

Perangkat lunak sistem operasi dengan kehandalan tinggi dan kebutuhan sumber daya memori maupun prosesor yang minimal serta fleksibel terhadap perangkat keras maupun program aplikasi yang baru, merupakan prioritas yang harus dikembangkan. Program aplikasi juga perlu dikembangkan, terutama yang terkait dengan sektor perekonomian, industri, pendidikan, maupun pemerintahan.

Dalam mempercepat pengembangan dan pendayagunaan perangkat lunak, perlu pula ditinjau implementasi konsep open source. Penerapan konsep open source ini diharapkan mampu menggalakkan industri perangkat lunak dengan partisipasi seluruh lapisan masyarakat tanpa melakukan pelanggaran hak cipta.

Kandungan Informasi

Kegiatan pengembangan kandungan informasi (information content) bertujuan melakukan penataan, penyimpanan, dan pengolahan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi proses pembangunan, pengorganisasian, pencarian, dan pendistribusian informasi.

Kegiatan riset dan pengembangan kandungan informasi diawali dengan pemetaan berbagai potensi dan informasi nasional beserta pemodelan proses information retrieval. Dengan demikian implementasi information repository dan information sharing merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan maksimal kandungan informasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan potensi lokal, akumulasi kekayaan seni dan budaya Indonesia yang beraneka ragam dapat pula dieksploitasi sebesar-besarnya untuk menghasilkan produk-produk seni budaya yang berbasis multimedia.

Pengembangan SDM

Dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) diperlukan upaya peningkatan kemandirian dan keunggulan, yang salah satunya adalah dengan mengembangkan sistem pendidikan dan pelatihan untuk membentuk keahlian dan keterampilan masyarakat dan peneliti dalam bidang teknologi yang strategis serta mengantisipasi timbulnya kesenjangan keahlian sebagai akibat kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi.

Pengembangan Regulasi dan Standarisasi

Program kajian regulasi meliputi penyusunan Undang-Undang dan penyempurnaan berbagai kebijakan terkait bidang teknologi informasi, komunikasi dan broadcasting. Salah satunya adalah penyempurnaan Cetak Biru Telekomunikasi dan UU Telekomunikasi No. 36/1999 yang sudah mulai ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat. Penyelesaian Rancangan UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan berbagai UU lain yang dapat mendorong pertumbuhan aplikasi IT sangatlah diharapkan realisasinya pada tahun 2005-2025. Termasuk dalam kerangka regulasi ini adalah mempercepat terlaksananya proses kompetisi yang sebenar-benarnya dalam penyediaan jasa telekomunikasi sehingga dapat memberikan perbaikan kondisi layanan, kemudahan bagi pengguna jasa, serta harga yang ekonomis.

TIK dalam Pembelajaran

Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Indonesia telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Inisiatif menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan sebagai upaya melakukan penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara, merupakan wujud dari kesadaran untuk mengoptimalkan pendayagunaan teknologi dalam membantu proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan adalah tidak adanya interaksi imbal-balik yang seketika. Siaran bersifat searah, dari nara sumber belajar atau fasilitator kepada pembelajar.

Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan movie) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih-lebih bila materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan berdasar teknologi Internet, memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer. Selain aplikasi puncak seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.

Buku Elektronik

Buku elektronik atau ebook adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Ke dalam ebook dapat diintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional.

Jenis ebook paling sederhana adalah yang sekedar memindahkan buku konvensional menjadi bentuk elektronik yang ditayangkan oleh komputer. Dengan teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam satu keping CD atau compact disk (kapasitas sekitar 700MB), DVD atau digital versatile disk (kapasitas 4,7 sampai 8,5 GB), ataupun flashdisk (saat ini kapasitas yang tersedia sampai 4 GB). Bentuk yang lebih kompleks dan memerlukan rancangan yang lebih cermat ada pada misalnya Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica yang merupakan ensiklopedi dalam format multimedia. Format multimedia memungkinkan ebook menyediakan tidak saja informasi tertulis tetapi juga suara, gambar, movie dan unsur multimedia lainnya. Penjelasan tentang satu jenis musik, misalnya, dapat disertai dengan cuplikan suara jenis musik tersebut sehingga pengguna dapat dengan jelas memahami apa yang dimaksud oleh penyaji.

E-learning

Beragam definisi dapat ditemukan untuk e-learning. Victoria L. Tinio, misalnya, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi (Tinio, tt: 4). Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet, sering disebut sebagai online learning. Definisi yang lebih luas dikemukakan pada working paper SEAMOLEC, yakni e-learning adalah pembelajaran melalui jasa elektronik (SEAMOLEC, 2003:1). Meski beragam definisi namun pada dasarnya disetujui bahwa e-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi tersebut tercakup siaran radio maupun televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk e-learning. Meskipun per definisi radio dan televisi pendidikan adalah salah satu bentuk e-learning, pada umumnya disepakati bahwa e-learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan teknologi internet. Internet-based learning atau web-based learning dalam bentuk paling sederhana adalah web-site yang dimanfaatkan untuk menyajikan materi-materi pembelajaran. Cara ini memungkinkan pembelajar mengakses sumber belajar yang disediakan oleh nara sumber atau fasilitator kapanpun dikehendaki. Bila diperlukan, dapat pula disediakan mailing-list khusus untuk situs pembelajaran tersebut yang berfungsi sebagai forum diskusi.

Fasilitas e-learning yang lengkap disediakan oleh perangkat lunak khusus yang disebut perangkat lunak pengelola pembelajaran atau LMS (learning management system). LMS mutakhir berjalan berbasis teknologi internet sehingga dapat diakses dari manapun selama tersedia akses ke internet (Hari Wibawanto, 2006). Fasilitas yang disediakan meliputi pengelolaan siswa atau peserta didik, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan proses pembelajaran termasuk pengelolaan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan komunikasi antara pembelajar dengan fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas ini memungkinkan kegiatan belajar dikelola tanpa adanya tatap muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat (administrator, fasilitator, peserta didik atau pembelajar). ‘Kehadiran’ pihak-pihak yang terlibat diwakili oleh email, kanal chatting, atau melalui video conference.

Aplikasi Lain

Selain e-book dan fasilitas e-learning, berbagai aplikasi lain bermunculan (dan kadang saling berintegrasi sehingga menimbulkan sinergi) sebagai dampak ikutan perkembangan TIK terutama internet.

E-zine dari kata e-magazine, merupakan bentuk digital dari majalah konvensional. Penerbitan majalah berformat digital memungkinkan ditekannya ongkos produksi (karena tidak perlu mencetak) dan distribusi (karena sekali diupload ke server, seluruh dunia bisa mengaksesnya). Pemutakhiran isinya juga dapat dilakukan dengan sangat cepat sehingga perkembangan mutakhir dapat disajikan dengan lebih cepat. Termasuk dalam kategori e-zine ini adalah e-newspaper yang berfokus pada berita terkini dan e-journal yang memfokuskan diri pada laporan hasil-hasil penelitian.

E-laboratory, merupakan bentuk digital dari fasilitas dan proses-proses laboratorium yang dapat disimulasikan secara digital. Pada dasarnya, perangkat lunak ini adalah perangkat lunak animasi dan simulasi yang dapat dikemas dalam keping CD, DVD maupun disajikan pada web-site sebagai web-based application (perangkat lunak yang berjalan pada jaringan internet).

Blog atau weblog adalah perkembangan mutakhir di bidang web-based application. Ide semula adalah menyediakan fasilitas electronic diary atau buku harian elektronik untuk remaja. Pengguna dapat mengisi buku harian tersebut semudah menulis email, mengunggah (upload) ke server hanya dengan meng-klik ikon, dan hasilnya adalah tayangan tulisan di layar browser. Pemakai internet di manapun berada dapat melihat publikasi tersebut dengan mengakses alamat situs, misalnya: http://hariwibawanto.wordpress.com. Dari sisi kandungan isi, blok sekarang banyak berisi gagasan, ide, dan opini pribadi tentang satu masalah yang menarik secara subyektif. Meskipun akurasi informasi yang tersaji masih bisa diperdebatkan, tetapi yang penting adalah blog memungkinkan seseorang tanpa pengetahuan desain web-site dapat dengan mudah membuat web-site pribadi dan mengelola maupun memutakhirkan isinya dengan sangat mudah. Kemudahan lain adalah tersedianya banyak server blog gratis. Dalam konteks pemanfaatannya bagi proses pembelajaran, kandungan isi blog pembelajar, misalnya, dapat menjadi umpan balik bagi fasilitator.

Konteks Lokal: Universitas Negeri Semarang

Salah satu syarat awal keterlibatan sivitas akademika dalam dunia TIK modern adalah computer literate atau melek komputer. Pendekatannya bisa top-down (dari dosen turun ke mahasiswa) atau sebaliknya bottom-up (dari mahasiswa naik ke dosen), atau dua-duanya berjalan simultan. Pendekatan ketiga itulah yang secara alami terjadi di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Penetrasi budaya masyarakat informasi yang ditularkan oleh perguruan tinggi besar di Indonesia maupun luar negeri telah menjadikan sebagian dosen melek komputer dan melek internet lebh dulu dari rekan-rekannya yang lain. Aset inilah yang secara alami melalui proses interaksi saling memerlukan, menjadi sarana persebaran keterampilan (dan budaya) menggunakan komputer dan internet.

Penggarapan lebih serius dilakukan oleh UPT Sumber Belajar dan Media melalui kegiatan-kegiatan pelatihan produksi multimedia, perancangan situs web, dan sebagainya, yang berlangsung sejak tahun 2000. Dalam kegiatan-kegiatan pelatihan itulah dilakukan pengenalan pemanfaatan komputer untuk pembelajaran, sehingga menimbulkan gairah belajar-mengajar dengan fasilitas komputer.

Sejak itu, mulailah masing-masing jurusan maupun program studi menyediakan fasilitas laboratorium komputer maupun laboratorium produksi multimedia. Kebutuhan yang mendesak terhadap akses internet mulai dilayani oleh warung internet yang bekerjasama dengan UPT Perpustakaan, kemudian disusul oleh layanan serupa di Jurusan Fisika, Jurusan Ekonomi, dan Jurusan Teknik Elektro.

Menyadari pentingnya akses Internet dan fasilitas pembelajaran berbasis TIK lainnya, maka pada tahun 2006, melalui program hibah kompetisi INHERENT Unnes berupaya menyatukan jaringan-jaringan komputer lokal yang ada di 8 fakultas dengan menggunakan back-bone serat optik. Upaya itu berhasil dilakukan setelah Unnes memenangkan hibah INHERENT (Unnes, 2006). Penyatuan jaringan lokal tersebut memungkinkan dioperasikannya sistem informasi online yang mulai tahun 2007 dimanfaatkan sebagai sarana heregistrasi, yudisium, dan pengisian KRS secara online. Pengembangan selanjutnya adalah menyatukan beberapa kampus Unnes yang berada di lokasi lain (misalnya: Program Pascasarjana di Bendan Ngisor dan PGSD di Karanganyar) menjadi satu jaringan dengan kampus pusat di Gunungpati. Sayangnya, keterbatasan anggaran rutin yang disediakan Unnes menjadikan rencana-rencana tersebut hanya dapat dilaksanakan dengan mengandalkan dana-dana dari program hibah kompetisi. Tim-tim yang dibentuk oleh Unnes mendapat tugas berat untuk mengajukan dan mempertahankan proposal yang diajukan ke Direktorat Pendidikan Tinggi, bersaing dengan ratusan perguruan tinggi lain (negeri maupun swasta), agar dapat didanai.

Beberapa permasalahan yang ditengarai menjadi tantangan pemanfataan TIK bagi pembelajaran di Unnes antara lain adalah:

  • Adanya digital divide dalam konteks lokal Unnes sendiri. Ada kesenjangan antara mahasiswa yang memperoleh kekayaan informasi lebih dengan mahasiswa yang memiliki akses informasi terbatas, baik akibat belum meratanya ketersediaan fasilitas, kurangnya keterampilan mengakses informasi, kurangnya dukungan finansial, maupun oleh sebab-sebab lain yang belum bisa diidentifikasi. Kesenjangan digital ini juga terjadi pada level dosen dan sivitas akademika lainnya.
  • Adanya resistansi atau penolakan baik yang bersifat statik (berupa sifat malas berubah dan malas belajar) maupun agresif (perlawanan, karena menjadi pihak yang ‘dirugikan’).
  • Ketergantungan pada sumber dana yang berasal dari hibah kompetisi menjadikan perkembangan TIK di Unnes tidak selalu berjalan sesuai skenario ideal. Hal itu disebabkan setiap program hibah yang diluncurkan Dikti senantiasa memiliki arah dan fokus sendiri, dan tidak selalu bisa dikaitkan dengan implementasi TIK.

Peluang-peluang di Masa Depan

Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi maupun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, termuat mata ajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk SMP/MI maupun SMA/SMK/MA/MAK. Sampai saat ini belum ada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang menghasilkan guru dengan spesialisasi pengajar Teknologu Informasi dan Komunikasi. Sebagian besar guru TIK di lapangan adalah guru yang berasal dari bidang keahlian kependidikan lain yang kebetulan ‘bisa mengoperasikan komputer’ atau bahkan sarjana-sarjana komputer. Ini merupakan peluang bagi LPTK seperti Unnes, baik dengan membuka secara khusus program studi yang terkait dengan TIK ataupun membekali calon guru dengan keterampilan TIK yang memadai sehingga tidak gamang menghadapi penugasan sebagai guru TIK.

Ladang garapan lain yang seharusnya digarap LPTK seperti Unnes adalah bidang pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran. Kiranya program studi Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (dengan penekanan pada frasa terakhir, Teknologi Pendidikan) tepat untuk menggarap bidang tersebut. Berikut adalah sebagian dari daftar panjang bidang-bidang yang seharusnya digarap Unnes sebagai LPTK:

  • Kajian desain dan implementasi bahan ajar multimedia;
  • Kajian teori-teori belajar terkait proses pembelajaran online;
  • Kajian eksploratif pemanfaatan jaringan Internet dalam proses pembelajaran;
  • Desain dan implementasi perangkat lunak pembelajaran dengan berlandaskan pada teori belajar mutakhir;
  • Pemanfaatan secara kreatif aplikasi-aplikasi berbasis internet yang telah ada menjadi alat bantu pembelajaran;
  • Kajian pemanfaatan chatting, blogging, maupun teleconferencing pada proses pembelajaran;

Penutup

Sebagai institusi yang menghasilkan guru dan tenaga kependidikan lainnya, Unnes masih perlu membenahi dan terus memperbaiki infrastruktur terkait teknologi informasi dan komunikasi. Perbaikan infrastruktur TIK ini merupakan keniscayaan, mengingat pesatnya perkembangan TIK pada umumnya dan yang terkait dengan proses pembelajaran pada khususnya. Selain perbaikan infrastruktur, rekayasa sosial untuk mendekatkan sivitas akademika dengan TIK perlu dilakukan mengingat bahwa adopsi teknologi hanya berhasil baik apabila disertai dengan penyesuaian-penyesuaian budaya maupun kebiasaan yang dibawa serta oleh teknologi tersebut.

Daftar Pustaka

Hari Wibawanto. 2006. Learning Management System. Handout. Disajikan pada Training on ICT in Instruction for Quality Improvement of Graduate Study di Universitas Udayana, Denpasar.

Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 2006. Buku Putih. Penelitian Pengembangan dan Penerapan IPTEK Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2005-2025. Jakarta: Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Lallana, Emmanuel C. 2003. The Information Age. Manila: e-Asean Task Force UNDP APDIP.

SEAMOLEC. 2003. e-Learning di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Makalah. Disajikan pada Seminar Nasional E-Learning perlu E-Library di Universitas Kristen Petra Surabaya pada 3 Februari 2003.

Unnes. 2006. Laporan Akhir Pelaksanaan Program K-2. Semarang: Unnes

Tentang Penulis

Drs. Hari Wibawanto, M.T.

Menyelesaikan S1 di Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika IKIP Yogyakarta dan S2 di Fakultas Teknik Universitas Gadjahmada Yogyakarta dengan spesialisasi Sistem Komputer dan Informatika. Menjadi dosen Universitas Negeri Semarang sejak tahun 1991 setelah beberapa saat lamanya menjadi staf redaksi bidang rekayasa dan ilmu-ilmu hayati pada Ensiklopedi Nasional Indonesia.

Terlibat aktif dalam penyusunan hibah-hibah kompetisi a.l.: Due-Like, SP4 Kompetisi, dan PHK K2 (Inherent). Saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Gajahmada Yogyakarta.

1 Disampaikan pada Seminar Tantangan dan Peluang Pembelajaran TI&K di Sekolah di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, 10 Februari 2007

infokom.files.wordpress.com

July 28th, 2010

Teknologi informasi terbaru

10 Penemuan dan Inovasi Tercanggih

Visited 401 times, 7 so far today
//
//

10. X2 Coaxial Rotor Helicopter (Heli tercepat di dunia)

Tahun lalu di kota Horseheads, N.Y., Kevin Bredenbeck menjadi the first pilot yang mengendarai Sikorsky Aircraft’s X2 technology demonstrator. uji yang sukses tersebut membuktikan kalau X2 engineering team telah menggebrak batas wajar dunia studi baling baling Helikopter. (Menjadikannya satu satunya TIm yang pernah membuat helikopter tercepat di dunia) Weiner’s team meletakkan 2- single rotor bersamaan (twin), 26.4-foot-long rotor yang berputar pada baling balingnya.

Sekarang, X2 team menset speed bar high—at 287 mph. “tapi ahli fisika kami bilang kalau mesin ini bisa sampai 300 knots,” Weiner says. bisa banget buat njemput pasien yang lagi koit. (pick up a patient and return to a hospital by the time a conventional helicopter simply arrived on the scene.)

9. Batery Tenaga mikroba
Beberapa abad kemaren memang para ilmuan sudah pada tau kalau bakteri di tanah bisa menghasilkan energi (lewat pergeseran ion ion).
Sekarang, sebuah tim dari Harvard called Lebônê telah mendesain ulang battery yang ngga terlalu mahal untuk digunakan di sub-Saharan Africa. The microbial fuel cell, or MFC, lumayan bisa menghidupkan enough current to power LED lights dan charging cellphone batteries.

8.Microsoft Natal

Intinya komputer bisa membaca pergeraan kita gan. desain awalnya dari pengembang adalah nintendo Wii. Terus dia menggunakan kamera, infrared dan beberape perangkat tambahan. Di masa depan, PC udah ngga perlu pake mouse, ngga perlu pake keyboard

7. Kepler Space Telescope

Adalah teleskop yang dibilang super canggih dan bisa mendeteksi planet yang mirip bumi.
Teropong luar angkasa ini bisa nangkep 42 CCDs at a group of 100,000 (ngga ngerti ane maksudnya)-plus bintang2 di galaksi bima sakti (within 600 to 3000 light-years of Earth). Jika ada pergerakan planet yang aneh, instrumen ini bakal merekamnya. Misi utama mereka (yang buat teropong) adalah pada tahun 2012 udah bisa menyelidiki kehidupan para alien.

6. Batery Natrium sulfur skala Rumahan

Di barat emang bener bener lagi menggalakkan energi alternatif. Salah satu energi itu adalah angin. Pembangkit listrik dari angin emang lagi demen digunakan, tapi sayang belum ada penyimpan energi yang mumpuni untuk digunain di rumah tangga.

penemuan ini bener bener membuat masyarakat sedikit bernafas lega gan.
penemunya bernama Coors. Dia adalah seorang chief scientist di CoorsTek. Coors and fellow researcher John Watkins membuat prototype sandwiching pada material material— a sodium super-ionic conductor—antara sodium metal anode dan a still-undisclosed aqueous cathode. Mereka berharap pengembangan generator seharga $2000 (masih dlam tahap pengembangan skala massal ini) itu bisa menyimpan 5 kilowatts untuk 4 hours —and keep it up for 10 tahun.

5. Deep Space Plasma Thruster

Roket tenaga bahan kimia masih menjadi harapan NASA. Biasanya pelunuran roket butuh 3.8 million pond propilen yang sangat mahal. Oleg Batishchev, ketua tim riset dari MIT Department of Aeronautics and Astronautics, memperkenalkan bahan bakar roket yang inovatif, Mini-Helicon Plasma Thruster. Bahan bakar ini didesain lebih ringan, murah, mudah dipindah ketika di luar angkasa.

4. Diagnosis Lab memakai chip

Tes Kesehatan yang dulunya mahal, kini bisa diatasi cuma pake metode seperti di gambar bawah ini. Tim dari Harvard yang membuat metode ini mengklaim juga bisa mendeteksi seseorang yang terkena AIDS.

3. I-TEC’s Flying Dune Buggy (mobil selancar Udara)

Steve Saint, 59, lahir di Ecuador di a family missionaries, menghabiskan waktu di dusun kecil di Amazon. hebatnya dia bisa melakukan penemuan bagus . Bagi orang kota, ini udah biasa. tapi bagi penduduk terpencil di Amazon, penemuan ini memang sangat bermanfaat. Mereka tidak lagi melakukan perjalanan di hutan belantara.

2. Robot Bola

Ketika kecil, Greg Schroll suka bermimpi tentang bola sepak yang bisa bergerak sendiri. Ketika dia menjadi mechanical engineering student di MIT, dia menciptakan spherical robot yang menyerupai bola. Desain ini masih belum sempurna, doi, Schroll bilang. “kebanyakan orang meragukan robot saya, yang katanya tidak bisa menaiki tangga. Gua bakal membuktikannya.

1. Transormasi Teknologi medis

Dean Kamen adalah orang yang sangat hebat. Dia punya 440 hak paten, seorang inovator dan penemu. Ratusan anak dan remaja di Amrik pada ikut ide ide gilanya bermimpi menjadi seorang penemu handal, menyelamatkan banyak orang dengan mengubah persepsi medis ke dalam teknologi modern.
Dean Kamen is the winner of the Popular Mechanics 2009 Leadership Award. ini adalah ide yang bagus, mentrasformasikan medis dengan teknologi. Sekitar 42.000 anak-anak berkompetisi di Kamen’s PERTAMA Robotika kompetisi tahun 2009, yang memuncak dalam acara Kejuaraan Dunia di Atlanta Georgia Dome.

July 28th, 2010

teknologi informasi terbaru

Informasi Teknologi Terbaru 2010, Komputer, Komunikasi, Internet, Robot, Gadget, Nuklir, Dunia, Indonesia

New Technology 2010

//

Harga Apple Charger Battery AAA

28 July 2010

Harga Apple Charger Battery AAA. Apple baru saja meluncurkan pengisi daya baterai AA Apple Battery Charger. Perangkat baru yang dirancang untuk mengisi ulang baterai keyboard nirkabel, Magic Mouse, Magic Trackpad. Menurut Apple itu adalah pengisi daya baterai terbaik di kelasnya dan juga energi yang paling efisien.

Harga Apple Charger Battery AAAApple Charger Battery

Click here to read more »

Samsung LED TV 22 Inch dan 26 Inch Full HD

28 July 2010

Samsung LED TV 22 Inch dan 26 Inch Full HD. Samsung memperkenalkan dua model LED TV 22-inci dan 26 inci di India. Kedua LED TV 4000 dan 5000 Series ini mempunyai fitur mirip dengan seri LED TV HD high-end. Mendukung HD penuh, rasio kontras tinggi yang dinamis, Allshare, Anynet, port HDMI dan Touch of Color (TOC) desain.

Samsung LED TV 22 Inch dan 26 Inch Full HDSamsung LED TV 22 Inch dan 26 Inch Full HD

Click here to read more »

Komputer Tablet Pionner DreamBook EPAD B10

23 July 2010

Komputer Tablet Pionner DreamBook EPAD B10. Pioneer Komputer Australia hits kembali dengan mengumumkan komputer tablet terbaru 2010 DreamBook EPAD B10. Didukung 1.3GHz Intel Celeron M 743 atau 1.4GHz Intel Core 2 Solo processor SU3500, the device sports a 10,1 inci 1.024 x 600 LED-backlit multi-touch display, Intel GMA X4500 terintegrasi kartu grafis sampai 4GB RAM, hingga 500GB HDD atau 256GB SSD.

Komputer Tablet Pionner DreamBook EPAD B10Komputer Tablet Pionner DreamBook EPAD B10

Click here to read more »

T-Mobile webConnect Rocket 2.0 Modem

23 July 2010

T-Mobile webConnect Rocket 2.0 Modem. T-Mobile memperkenalkan modem merek baru dalam bentuk webConnect Rocket 2,0. Perangkat ini memiliki built-in penyimpanan microSDHC dan konektor USB berputar, yang membuatnya menjadi snap untuk masuk ke dalam MacBook Air dengan ruang yang terbatas. T-Mobile webConnect Rocket 2,0 Modem juga mendukung platform Mac dan Windows PC.

T-Mobile webConnect Rocket 2.0 ModemT-Mobile webConnect Rocket 2.0 Modem

Click here to read more »

Fitur Android Tablet OlivePad VT100

23 July 2010

Fitur Android Tablet OlivePad VT100. Olive Telecom akan meluncurkan Android tablet OlivePad VT100 di India bulan Agustus. Gadget terbaru 2010 yang mendukung layar TFT 7-inci multitouch, sebuah Wi-Fi terintegrasi dan konektivitas Bluetooth, kamera 3-megapiksel dengan kamera depan, RAM 512MB, ROM 512MB, dukungan navigasi GPS, sebuah kompatibilitas pembaca e-book, suara dan panggilan video, port miniUSB dan browser web dengan dukungan Flash.

Android Tablet OlivePad VT100Android Tablet OlivePad VT100

July 28th, 2010

kalimantan tengah

Lambang Kalimantan Tengah
Lambang
Isen Mulang
(Bahasa Sangen: Pantang Mundur)
Locator kalteng final.png
Peta lokasi Kalimantan Tengah
Koordinat 3º 50′ LS – 1º 10′ LU
110º 20′ – 116º 0′ BT
Dasar hukum
Tanggal penting 23 Mei 1957 (hari jadi)
Ibu kota Palangka Raya
Gubernur Agustin Teras Narang, SH
Luas 157.983 km²Pantai: 750 km
Penduduk 2.004.110 (2006)
Kepadatan 12/km²
Kabupaten 13
Kota 1
Kecamatan 88
Kelurahan/Desa 1.136
Suku Banjar (24%), Jawa (18%),
Ngaju (18%), Dayak Sampit (10%), Bakumpai (8%) [1]
Agama Islam (69,67%), Protestan (16,41%), Hindu (10,69), Katolik (3,11%), Buddha (0,12%)
Bahasa Bahasa Dayak, Bahasa Indonesia
Zona waktu WIB
Lagu daerah Kalayar, Naluya, Palu Cempang Pupoi, Tumpi Wayu, Saluang Kitik-Kitik, Manasai

Kalimantan Tengah adalah salah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibukotanya adalah Palangka Raya.

Provinsi ini mempunyai 13 kabupaten dan 1 kotamadya

Sejarah

Pada abad ke-14 Lambung Mangkurat memerintah kerajaan Negara Dipa dengan wilayahnya dari Tanjung Silat sampai Tanjung Puting dengan daerah-daerah yang disebut sakai yaitu daerah sungai Barito, Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit, Labuan Amas, Biaju Kecil/Kapuas, Biaju Besar/Kahayan, Sebangau, Mendawai, Katingan, Sampit dan Pembuang yang berada dibawah para Mantri Sakai. Selanjutnya Kalimantan Tengah masih termasuk dalam wilayah Kesultanan Banjar, penerus Negara Dipa. Pada abad ke-16, berkuasalah Raja Maruhum Panambahan yang beristerikan Nyai Diang Lawai, seorang puteri Dayak dari Biaju (Kabupaten Kapuas). Raja Maruhum memerintahkan Dipati Ngganding untuk memerintah di negeri Kotawaringin. Dipati Ngganding digantikan oleh menantunya Pangeran Dipati Anta-Kasuma putera Raja Maruhum sebagai raja Kotawaringin yang pertama dengan gelar Ratu Kota Waringin. Pangeran Dipati Anta-Kasuma adalah suami dari Andin Juluk puteri Dipati Ngganding dan Nyai Tapu puteri Mantri Kahayan. Di Kotawaringin Pangeran Dipati Anta-Kasuma menikahi wanita setempat dan memperoleh anak yaitu Pangeran Amas dan Putri Lanting. Pangeran Amas yang bergelar Ratu Amas inilah yang menjadi raja Kotawaringin penggantinya. Sesuai traktat 13 Agustus 1787, Sultan Tahmidullah II dari Banjar menyerahkan daerah-daerah di Kalimantan Tengah, Kalimatan Timur, dan sebagian Kalimantan Selatan kepada VOC, sedangkan Kesultanan Banjar sendiri dengan wilayahnya yang tersisa (daerah Martapura sampai Tamiang Layang) menjadi daerah protektorat VOC-Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Tengah beserta daerah lainnya kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

[sunting] Kondisi dan Sumber Daya Alam

[sunting] Kondisi Alam

Bagian Utara terdiri Pegunungan Muller Swachner dan perbukitan, bagian Selatan dataran rendah, rawa, paya-paya. Berbatasan dengan tiga Provinsi Indonesia yaitu Kalimantan Timur, Selatan dan Barat serta Laut Jawa. Iklim tropis lembab, dilintasi garis equator.

[sunting] Keanekaragaman Hayati

Banyak belum diketahui, dengan ragam wilayah pantai, gunung / bukit, dataran rendah dan paya, segala macam vegetasi tropis mendominasi alam daerah ini. Orangutan merupakan hewan endemik yang masih banyak di Kalteng khususnya di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting yang mencapai 300.000 Ha di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Terdapat beruang, landak, owa-owa, beruk, kera, bekantan, trenggiling, buaya, kukang, paus air tawar (tampahas), arwana, manjuhan, biota laut, penyu, bulus, burung rangkong, betet / beo dan lain-lain bervariasi tinggi.

[sunting] Sumber Daya Alam

Hutan mendominasi wilayah 80 %. Hutan primer tersisa sekitar 25 % dari luas wilayah. Lahan yang luas saat ini mulai didominasi kebun Kelapa Sawit mencapai 700.000 Ha (2007). Perkebunan karet dan rotan rakyat masih tersebar hampir diseluruh daerah, terutama di Kab Kapuas, Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas dan Kotawaringin Timur. Banyak ragam potensi sumber alam, antara lain yang sudah diusahakan batubara, emas, zirkon, besi. Terdapat pula tembaga, kaolin, batu permata dan lain-lain.

[sunting] Sosial Kemasyarakatan

[sunting] Suku Bangsa

Busana Adat Kotawarigin Barat yang merupakan unsur pengaruh budaya Melayu/Banjar dan Jawa di Kalteng terutama dipengaruhi Busana pengantin Banjar Baamar Galung Pancar Matahari

Sebutan umum suku Dayak yang ada di Kalteng adalah suku Dayak Ngaju (dominan), suku lainnya yang tinggal di pesisir adalah Banjar Melayu Pantai merupakan 25 % populasi. Di samping itu ada pula suku Jawa, Madura, Bugis dan lain-lain. Suku Dayak di Kalteng antara lain :

[sunting] Bahasa

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalteng, bahasa daerah (lokal) terdapat pada 11 Daerah Aliran Sugan (DAS) meliputi 9 bahasa dominan dan 13 bahasa minoritas yaitu:

  • Bahasa Dominan :
  1. Bahasa Melayu
  2. Bahasa Banjar
  3. Bahasa Ngaju
  4. Bahasa Manyan
  5. Bahasa Ot Danum
  6. Bahasa Katingan
  7. Bahasa Bakumpai
  8. Bahasa Tamuan
  9. Bahasa Sampit[2]
  • Bahasa Kelompok Minoritas :
  1. Bahasa Mentaya
  2. Bahasa Pembuang
  3. Bahasa Dusun Kalahien
  4. Bahasa Balai
  5. Bahasa Bulik
  6. Bahasa Mendawai
  7. Bahasa Dusun Bayan
  8. Bahasa Dusun Tawoyan
  9. Bahasa Dusun Lawangan
  10. Bahasa Dayak Barean
  11. Bahasa Dayak Bara Injey
  12. Bahasa Kadoreh
  13. Bahasa Waringin

[sunting] Agama

Seperti daerah lain di Indonesia, di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat berbagai jenis agama dan kepercayaan yang menyebar diseluruh daerah Kalimantan Tengah, antara lain :

  1. Islam
  2. Kristen Prostestan
  3. Katolik
  4. Hindu Bali
  5. Budha
  6. Hindu Kaharingan

Kaharingan adalah kepercayaan Penduduk asli Kalimantan Tengah yang hanya terdapat di daerah Kalimantan sehingga untuk dapat diakui sebagai agama maka digabungkan dalam agama Hindu. Penganut Agama Hindu Kaharingan tersebar di daerah Kalimantan Tengah dan banyak terdapat dibagian hulu sungai, antara lain hulu sungai kahayan, sungai katingan, dan hulu sungai lainnya.

[sunting] Pendidikan

Geliat dunia pendidikan di Kalimantan Tengah sekarang sedang berkembang dengan pesat. Hal tersebut ditandai dengan bermunculannya berbagai lembaga pendidikan serta keberadaan beberapa Universitas dan Sekolah tinggi di Kalimantan Tengah.

Universitas Negeri Palangka Raya merupakan universitas negeri yang ada di Kalimantan Tengah, selain itu terdapat Universitas Muhamadiyah serta beberapa sekolah tinggi lainnya yang ikut memberikan sumbangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kalimantan Tengah; seperti Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai serta Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Palangka Raya. Tak lupa pula berbagai Universitas maupun Sekolah Tinggi rintisan yang terdapat di Kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah.

[sunting] Pemerintahan

[sunting] Kabupaten dan Kota

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Barito Selatan Buntok
2 Kabupaten Barito Timur Tamiang
3 Kabupaten Barito Utara Muara Teweh
4 Kabupaten Gunung Mas Kuala Kurun
5 Kabupaten Kapuas Kuala Kapuas
6 Kabupaten Katingan Kasongan
7 Kabupaten Kotawaringin Barat Pangkalan Bun
8 Kabupaten Kotawaringin Timur Sampit
9 Kabupaten Lamandau Nanga Bulik
10 Kabupaten Murung Raya Purukcahu
11 Kabupaten Pulang Pisau Pulang Pisau
12 Kabupaten Sukamara Sukamara
13 Kabupaten Seruyan Kuala Pembuang
14 Kota Palangka Raya -

[sunting] Daftar gubernur

No. Foto Nama Dari Sampai Keterangan
1. RTA Milono.jpg R.T.A. Milono 1 Januari 1957 30 Juni 1958
2. Tjilik Riwut.jpg Tjilik Riwut 30 Juni 1958 Februari 1967
3. ReynouldSilvanus1.jpg Reinout Sylvanus Februari 1967 3 Oktober 1978
4. WA Gara.jpg Willy Annania Gara 3 Oktober 1978 7 Oktober 1983
5. Eddy Sabara.jpg Eddy Sabara 7 Oktober 1983 23 Januari 1984
6. Gatot Amrih.jpg Gatot Amrih 23 Oktober 1984 21 Januari 1989
7. Suparmanto 23 Januari 1989 22 Januari 1993
8. Warsito Rasman 17 Juli 1994 Juli 1999
9. Rappiudin Hamarung Juli 1999 8 Maret 2000
10. Asmawi Agani 8 Maret 2000 23 Maret 2005
11. Sodjuangan-situmorang-060809.jpg Sodjuangan Situmorang 23 Maret 2005 4 Agustus 2005 Penjabat Gubernur
12. Agustin-teras-narang.jpg Agustin Teras Narang 4 Agustus 2005 sekarang

[sunting] Perekonomian

[sunting] Tenaga Kerja

Penduduk Usia 15 Tahun lebih menurut kegiatan

Kegiatan Utama Februari 2006 Agustus 2006 Februari 2007 Februari 2008
Penduduk Usia 15 tahun lebih 1.387.244 1.398.307 1.411.568 1.438.271
Angkatan Kerja 991.764 944.266 1.100.430 1.077.831
Bekerja 991.764 944.266 1.045.186 1.026.211

Sumber: BPS Propinsi Kalimantan Tengah

[sunting] Hutan & Ikan

Potensi Perikanan di Kalimantan Tengah sangat besar, khususnya Perikanan air tawar. Hal itu dikarenakan luasnya wilayah perairan tawar seperti sungai, danau dan rawa di Kalimantan Tengah.

[sunting] Pertambangan

Sebagian Besar Penduduk di Wilayah Katingan Khususnya Kecamatan Katingan Tengah bermata pencaharian sebagai petani dan Penambang. hasil tambang utama yang dihasilkan adalah emas dan puya (pasir zirkon) yang berwarna merah. Masyarakat dalam melakukan penambangan masih bersifat tradisional sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal.

[sunting] Transportasi

Bandar udara Tjilik Riwut Palangkaraya telah bisa melayani penerbangan dari dan ke Surabaya dan Jakarta direct, menggunakan pesawat jet berbadan lebar jenis Boeing 737-200,737-300 dan 737-400. penerbangan ini dilayani oleh 3 maskapai, yaitu: Sriwijaya Air, Garuda Indonesia dan Batavia Air. Bandar udara kesayangan masyarakat Palangkaraya ini memiliki pcn 29 fczu. Bisa dilintasi dengan mobil maupun taksi.

[sunting] Seni dan Budaya

[sunting] Seni Music

Chordophone

  • Kacapi
  • Rebab

Idiophone

  • Berbagai Jenis Gong
  • Kangkanung

Membranophone

  • Berbagai jenis Kendang (Gandang)
  • Katambung

[sunting] Seni Vocal

  • Karungut
  • Kandan
  • Mansana
  • Kalalai lalai
  • Ngendau
  • Natum
  • Dodoi
  • Marung, etc

[sunting] Tarian

Terdapat

  • Tari Hugo dan Huda.
  • Tari Putri Malawen
  • Tari Tuntung Tulus dari Barito Timur
  • Tari Giring-giring
  • Manasai
  • Tari Balian Bawo
  • Tari Balian Dadas
  • Manganjan

[sunting] Seni Kriya

  • Seni Pahat patung Sapundu

juga terdapat,seni lukis,tatto,anyaman,seni dari bahan getah Nyatu, etc

[sunting] Seni bela diri

[sunting] Upacara Adat

[sunting] Pakaian pengantin

Pengantin pria Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit perak atau tali pinggang, dan tutup kepala. Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang, cekoang atau kalung pendek, dan kalung yang terbuat dari gigi binatang. Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek,rompi,ikat kepala dengan hiasan bulu enggang,kalung, dan subang.

[sunting] Pranala luar

July 28th, 2010

Arti, saran, dan fungsi manajemen

ARTI, SARANA, DAN FUNGSI MANAJEMEN

Oleh : Ahmad Shohib

- – - Wakil Sekretaris II PC IPNU Tuban – - -

  1. Arti manajemen

Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman. Berbagai istilah yang dipergunakan, seperti ketatalaksanaan, manajemen,dan manajemen pengurusan. Untuk menghindari penafsiran yang berbeda-beda, dalam tulisan ini kita pakai istilah aslinya yaitu “manajemen”

Bila kita pelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian, yaitu pertama, manajemen sebagai suatu proses; kedua, manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen; dan ketiga, manajemen sebagai suatu seni (art) dan sebagai suatu ilmu.

Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian yang pertama itu, kita kemukakan tiga buah definisi.

Dalam Encylopedia of the Social dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.

Selanjutnya Haimann mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama.

Akhirnya, George R. Terry mengatakan bahwa manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain.

Bila kita perhatikan ketiga definisi di atas, maka akan segera tampak bahwa ada tiga pokok penting dalam definisi-definisi tersebut, yaitu pertama adanya tujuan yang ingin dicapai; kedua tujuan dicapai dengan mempergunakan kegiatan orang lain; ketiga, kegiatan-kegiatan orang lain itu harus dibimbing dan diawasi

Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen. Dalam arti singular (tunggal), disebut manajer. Manajer adalah pejabat yang bertanggungjawab atas terselenggaranya aktivitas-aktivitas manajemen agar tujuan unit yang dipimpinnya tercapai dengan menggunakan bantuan orang lain.

Apakah yang dimaksud dengan aktivitas manajemen itu? Dengan aktivitas manajemen dimaksudkan kegiatan- kegiatan atau fungsi-fungsi yang dilakukan oleh setiap manajer. Pada umumnya, kegiatan-kegiatan dan aktivitas-aktivitas manajer itu adalah Planning, organizing, staffing, dan controlling. ini sering pula disebut dengan istilah proses manajemen, fungsi-fungsi manajemen, bahkan ada yang menyebutnya unsur-unsur manajemen.

Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni atau suatu ilmu mengenai inipun sesungguhkan belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen itu adalah seni, golongan lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenaran.

Chester I Barnard dalam bukunya the fungction of the exekutive mengakui bahwa manajemen itu adalah “seni” dan juga sebagai “ilmu”. Demikian pula Henry Fayol, Alfin Brown Harold Koontz, Cyril O’Donnel, dan George R. Terry beranggapan bahwa manajemen itu adalah ilmu sekaligus seni.

Manajemen sebagai seni berfungsi untuk mencapai tujuan yang nyata mendatangkan hasil atau manfaat, sedangkan manajemen sebagai ilmu berfungsi menerangkan fenomena/ gejala, kejadian, keadaan, jadi memberikan penjelasan.

Unsur keilmuan merupakan kumpulan pengetahuan yang tertentu, seperti yang dinyatakan oleh peraturan-peraturan atau statemen-statemen umum, dan dipertahankan oleh berbagai tingkat ujian-ujian dan peneyelidikan-penyelidikan. Unsur seni ialah pemakaian pengetahuan tersebut pada satu situasi tertentu. Dengan pengalaman-pengalaman pemakaian yang demikian menjadi pembawaan, kira-kira suatu panca indra keenam, keahlian yang bersifat intuisi. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, manajemen benar-benar melakukan kedua fungsi tersebut, yaitu selain fungsi ilmu juga sebagai seni.

Memperhatikan pengertian manajemen yang pertama serta kenyataan bahwa manajemen itu adalah ilmu sekaligus seni, maka manajemen itu dapat diberi definisi sebagai “Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan sumberdaya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan”

  1. Sarana Manajemen

Bila kita perhatikan ketiga definisi yang sudah dikemukakan di atas, maka tampak seakan-akan satu-satunya alat atau sarana manajemen untuk mencapai tujuan adalah orang atau manusia saja hal ini tidak demikian. Perhatikan definisi yang kita berikan terakhir. Untuk mencapai tujuan para manajer menggunakan 6 M. dengan kata lain sarana atau tools atau alat manajemen untuk mencapai tujuan adalah Men, Money, Materials, Machines, Methods, dan Markets. Kesemuanya disebut sumberdaya. Sarana penting atau sarana utama dari setiap manajer untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu adalah manusia. Berbagai macam aktivitas yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dan aktifitas itu dapat kita tinjau dari sudut proses seperti Planning, Organizing, Staffing, Directing, dan Controlling, dapat kita tinjau dari sudut bidang seperti penjualan, produksi, keuangan personalia, dan sebagainya. Untuk melakukan berbagai aktivitas tersebut kita perlukan manusia. Tanpa adanya manusia manajer tidak akan mungkin mencapai tujuannya. Harus dilihat bahwa manajer adalah orang yang mencapai hasil melalui orang lain.

Sarana manajemen yang kedua adalah uang. Untuk melakukan berbagai aktifitas diperlukan uang seperti upah atau gaji orang yang membuat rencana mengadakan pengawasan bekerja dalam proses produksi, membeli bahan-bahan peralatan dsb. Uang sebagai sarana manajemen harus digunakan sedemikian rupa agar tujuan yang diinginkan dicapai bila dinilai dengan uang lebih besar dari uang yang digunakan untuk tujuan tersebut. Kegagalan proses manajemen sedikit banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh perhitungan atau ketelitian dalam menggunakan uang

Dalam proses pelaksanaan kegiatan manusia menggunakan bahan-bahan atau material karenanya dianggap pula sebagai alat atau sarana manajemen. Untuk mencapai tujuan dalam proses pelaksanaan kegiatan terlebih dalam kemajuan teknologi dewasa ini, manusia bukan lagi sebagai pembantu bagi mesin telah berubah kedudukannya sebagai pembantu manusia.

Untuk melakukan kegiatan secara berdaya guna dan berhasil guna manusia dihadapkan kepada berbagai alternatif atau cara melakukan pekerjaan. Oleh karena metode atau cara dianggap pula sebagai sarana atau alat manajemen untuk mencapai tujuan misalnya ceramah bervariasi, metode kasus, metode insiden, Games dan Role Playing. Masing-masing metode itu tentu berbeda daya guna dan hasil gunanya untuk mencapai tujuan tertentu.

Bagi badan yang bergerak dibidang industri maka sarana manajemen penting lainnya adalah pasar atau market. Tanpa adanya pasar bagi hasil produksi, jelas tujuan perusahaan industri tidak mungkin akan tercapai. Salah satu masalah pokok bagi perusahaan industri adalah minimal mempertahankan pasar yang sudah ada, bila mungkin berusaha mencari pasar baru bagi hasil produksinya. Oleh karena itulah salah satu sarana manajemen penting lainnya khusus bagi perusahaan industri dan umumnya bagi semua badan yang bertujuan untuk mencari laba adalah market atau pasar

  1. Fungsi Manajemen

Sampai saat ini belum ada konsensus baik diantara praktisi maupun para teoritikus mngenai apa yang menjadi fungsi manajemen, sering pula disebut unsur-unsur manajemen. Berbagai pendapat mengenai fungsi – fungsi manajemen akan tampak jelas dengan dikemukakannya pendapat beberapa penulis sbb :

    1. Louis A. Allen : Leading, Planning, Organizing, Controlling
    2. Prajudi Atmosudirjo : Planning, Organizing, Directing atau Actuating, Controlling
    3. John Robert Beishline : Perencanaan, Organsasi, komando, kontrol
    4. Henry Fayol : Planning, Organizing, Commanding, coordinating, controlling
    5. Luther Gullich : planning, organizing, staffing, directing,coordinating, reporting, budgeting.
    6. Koontz O’ Donnel : organizing, staffing, directing planning, controlling
    7. William H.Newman :Planing, Organizing, assembling, Resources, directing controling
    8. SP. Siagiang : planning, organizing, motivating, controlling
    9. William Spriegel : planning,organizing,Controling
    10. George R.terry : Planning,organizing, Actuating,controlling
    11. Lyndak F.Urwick : Forecasting,Planning,Organizing, Comanding, Coordinating, Controling
    12. Winardi :Planning,organizing, coordinating, ctuating, leading, comunication, Cntroling.
    13. The Liang Gie :Planning, Decision,Decion making, Directing, Coordinating, Controling, Improving.

Pada hakikatnya, bila dikombinasikan pendapat ketiga belas penulis diatas, maka fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut :

  1. Forecasting
  2. Planning termasuk budgeting
  3. Organizing
  4. Staffing atau Assembling Resources
  5. Directing atau commanding
  6. Leading
  7. Coordinating
  8. Motivating
  9. Controlling
  10. 5hohib.files.wordpress.com
July 28th, 2010

Politik manajemen dan profesionalisme kaum cendikiawan

POLITIK MANAJEMEN DAN PROFESIONALISME KAUM CENDEKIAWAN

Oleh: Hendyat Soetopo

  1. PENGANTAR

Julien Benda (1867 – 1956) telah menulis buku La Trahison des Cercs yang menunjukkan pengkhianatan kaum cendekiawan, karena di matanya gerakan kaum romantisme merupakan gerakan anti-intelektualisme. Kemapanan manajemen pada abad itu ditentang keras oleh kaum cendekiawan, sehingga muncul pengkhianatan kaum cendekiawan (menurut pandangan kaum romantisme). Kaum cendekiawan yang sejak jaman dulu suka mengkritisi kemapanan kebijakan dianggap sebagai pemberontak. Di abad modern sekarang pun kaum cendekiawan dengan jiwa inovatifnya sering dianggap sebagai pengganggu kaum birokrat, sehingga disebut sebagai provokator dan dicap sebagai kalangan yang “ngomong thok”. Hal ini tidak lepas dari peran kaum cendekiawan sendiri yang terkadang menyimpang dari tataran etik dan normatif kecendekiawanan dan perpolitikan. Wiratmo Sukito (dalam Benda, 1997) menyebutkan adanya prostitusi kaum cendekiawan dalam arti menjual diri untuk memperoleh sesuatu. Read (1946) membuat essay tentang politik orang yang tak berpolitik yang tokoh-tokohnya disebut: Ruskin dan Kropotkin, Morris dan Tolstoi, Gandhi, dan Eric Gill. Benda bahkan menyebut politik sebagai kerajaan militerisme dan jiwa kolektif: realisme, materialisme, praktikalisme, aktivisme. Politisi dan partai-partai mereka hanya menyatakan kemalangan, simplifikasi berlebihan, pikirannya sophistik, mengabaikan transendensi.

Dalam kenyataan hidup organisasi dan atau kelembagaan, tampaknya tidak lepas dari aspek politis. Profesionalisme murni kaum cendekiawan merupakan ungkapan utopis dunia maya yang jarang terjadi dalam dunia nyata. Dalam tataran birokrasi, implementasi teori manajemen yang penuh idealitas telah terwarnai oleh kehidupan politis dan hal ini telah berlangsung sejak abad 18 bahkan sebelumnya. Menjadi lebih memprihatinkan para cendekiawan yang semestinya profesional dan penuh idealitas di bidangnya begitu memasuki jajaran birokrasi yang nota bene berfungsi manajerial dalam pembuatan keputusan, penetap policy, penyusun program/ proyek, pengimplementasi, dan pengevaluasi terwarnai dan tidak bisa lepas dari kungkungan politis, bahkan membaur dan terseret dalam arus kehidupan politis itu. Berbagai kepentingan muncul untuk diperjuangkan baik oleh individu, kelompok, melalui mesin politik informal dan resmi (Kantaprawira, 1988). Hal ini sejalan dengan konsep pokok politik yang dikemukakan Prof. Wahid Siswoyo (1994) bahwa konsep politik berkait dengan negara (Soltau, 1961), kekuasaan (Robson, 1954), pengembilan keputusan (Deutsch, 1970), kebijakan (Easton, 1971) , pembagian atau alokasi (Budiardjo, 1980), konflik dan kerjasama (Jouvenel, 1985). Pengertian politik ini dekat sekali dengan aktivitas manajemen yang terkait dengan outhority (kekuasaan/kewenangan), decision making (pembuatan keputusan), policy (kebijakan), devision of labours and allocation (pembagian pekerjaan dan alokasi dana), conflict and cooperation (konflik dan kerjasama). Pertanyaan utamanya adalah mengapa tidak ada disiplin ilmu politik manajemen? Toh di bidang politik ada politisi yang profesional, tentu saja ada manajer politis yang profesional? Bagaimana para cendekiawan mendudukkan posisinya dalam konteks manajemen politik?

Selama ini banyak kalangan menganggap dunia politik adalah dunia kotor, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, memperjuangkan kepentingan demi tujuan golongan. Benarkah demikian? Di dunia politik terdapat etika politik, norma-norma politik, nilai-nilai politik yang dijunjung tinggi oleh politikus, sementara di dunia manajemen ada etika profesional di bidang manajemen, norma-norma dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam aplikasi manajemen. Dalam praktek, bisa jadi sinyalir kekotoran dan interesan individu dan kelompok menjadi benar, sama halnya manejer yang praktek manajerialnya menyimpang dari teori-teori manajemen.

Berikut dipaparkan sedikit tentang tinjauan politik manajemen sebagai bahan renungan terhadap permasalahan hidup organisasi dalam dinamika perilakunya. Pandangan Terry (1960) tentang fungsi-fungsi manajemen digunakan untuk mewawas.

  1. POLITIK PERENCANAAN

Salah satu fungsi manajemen adalah perencanaan. Perencanaan dalam manajemen menyangkut substansi (komponen apa yang direncanakan) dan proses (pendekatan, strategi, taktik, dan personel perencana). Dalam aspek proses inilah aspek politis perencanaan diterapkan. Penentuan siapa yang berfungsi sebagai perencana dan bagaimana proses perencanaan dijalankan, dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak lepas dari pertimbangan politis. Jika menggunakan pertimbangan profesional, personel yang kompeten di bidangnya diserahi tugas membuat perencanaan, misalnya komite perencanaan, departemen riset, eksekutif, atau dewan (Sears, 1950). Jika menggunakan pertimbangan birokratis, para pimpinan dan kepala bagian yang diserahi tugas. Sementara jika menggunakan pertimbangan politis, bergantung pendekatan yang digunakan: jika dengan dependency approach, orang yang berkuasa yang menyusun, jika dengan comparative politics approach, pelibatan pihak lain disarankan, jika menggunakan nonethnocentric approach, semua orang tanpa memperhatikan etnisnya dilibatkan, jika menggunakan democratic system approach, semua orang tanpa memperhatikan aspek apa pun dilibatkan, dan jika menggunakan alternative approach, akademisi dari berbagai disiplin dilibatkan (Wiarda, 1985). Dalam proses penyusunan rencana pun pendekatan-pendekatan politis tersebut dapat diterapkan. Dengan demikian secara teoritis kegiatan perencanaan terbebas dari kepentingan dan interes individu, kelompok, dan golongan tertentu. Perencanaan dilakukan secara adil, bijaksana, dan profesional untuk memperoleh hasil yang maksimal.

  1. POLITIK PENGORGANISASIAN

Aktivitas pengorganisasian berkait dengan pembentukan bagian, penstrukturan, job descrption, analysis of duties, dan mekanisme kerja. Di dalamnya juga tercakup staffing (dari Gullick, Konzt & O’Donnel, penempatan personel dalam posisi), assembling (dari Newman, merakit unit-unit dalam satu kesatuan sistem), koordinasi (dari Fayol, Urwick, Sears, Assa, Gregg, Campbel dll., mengkerjasamakan antar bagian/unit), dan alocating (dari Assa, mengalokasikan sumber daya ke dalam bagian/unit). Beberapa fungsi manajemen tersebut dapat berdiri sendiri-sendiri, tetapi untuk kerangka wawasan Terry dalam hal fungsi manajemen dapat dimasukkan ke dalam fungsi pengorganisasian. Dalam tinjauan politis, ketika fungsi manajemen pengorganisasian dilaksanakan, teori-teori tradisional, behaviorisme politis, historisme politis, relativisme moral dalam politik, teori normatif, teori distribusi yang dikemukakan oleh Varma (1995) dapat menjadi dasar. Nakamura dan Smallwood (1980) mengutip pandangan Rein & Rabinovitz menyarankan penggunaan pendekatan legal imperative, rational-birocratic imperative, dan consensual imperative dalam melaksanakan pengorganisasian.

Dalam praktek kehidupan berorganisasi, implementasi aspek politis dalam manajemen dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak sehat. Sebagai contoh, dalam hal melaksnaakan fungsi staffing, beberapa kelompok kepentingan melakukan proses saling jegal untuk merebut posisi dalam memperoleh kekuasaan. Padahal proses semacam itu dapat saja dilakukan dengan pendekatan politik rational-birokratic dan consensual imperative atas dasar tinajauan historis, relativisme moral, normatif, dan distributif. Jika hal ini terlaksana, maka proses pengorganisasian akan berjalan secara terbuka, saling memberi dan menerima, satu sama lain saling memahami. Bukan justru saling sembunyi dan saling jegal yang memunculkan iklim politis yang tidak sehat, pada gilirannya akan mengganggu proses komunikasi antar manusia dan antar unit sehingga produktivitas menurun. Bahkan konspirasi untuk saling menggulingkan juga akan mengganggu jalannya organisasi.

  1. POLITIK PELAKSANAAN

Jika dalam proses perencaan dan pengorganisasian sejak awal telah diwarnai implementasi kegiatan politis yang tidak sesuai dengan teori dan pendekatan politis yang semestinya, maka dalam pelaksanaan pun akan terbawa pewarnaan itu. Begitu seterusnya sehingga keefektifan organisasi akan terganggu hanya karena energi dicurahkan untuk memikirkan dan memecahkan masalah politis dalam organisasi. Fungsi pelaksanaan (diterjemahkan dari actuating-nya Terry) menyangkut pelaksanaan fungsi manajemen lainnya yaitu commanding (dari Fayol, memberi komando/perintah), directing (dari Urwick, Gullick, Newman, Sears, Konzt & O’Donnel, memberi pengarahan), stimulating (dari Assa, Campbell, Jenson, memberikan stimulasi), communicating (dari Gregg, berkomunikasi antar manusia dan antar unit). Dalam implementasi fungsi pelaksanaan ini juga terjadi rawan praktek politis yang tidak sesuai dengan teori-teori politik yang semestinya. Ketika orang berangkat dari pandangan politik adalah kekuasaan, usaha pencapaian kekuasaan itu dilakukan dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Bisa jadi panggung praktek politik yang kita saksikan selama ini adalah praktek politik yang banyak meninggalkan nilai-nilai, norma-norma, dan etika politik yang seharusnya. Sama halnya praktek manajemen yang terjadi di jajaran pelaksana pendidikan yang mengabaikan nilai-nilai dan norma-norma manajerial yang semestinya dipedulikan.

Hal ini berlaku jika para manajer memandang politik adalah decision making (pembuatan keputusan), policy (kebijakan), devision of labours and allocation (pembagian pekerjaan dan alokasi dana), conflict and cooperation (konflik dan kerjasama). Dalam praktek manajemen, pandangan politis ini dapat saja menyimpang dari teori, norma, etika, dan nilai-nilai manajerial dan nilai-nilai politis yang semestinya (hal ini tidak dapat diurai panjang lebar pada kesempatan ini karena keterbatasan waktu, apalagi jika disertai contoh-contoh dalam praktek politik manajemen). Namun, dapat ditekankan bahwa tampaknya kajian disiplin politik manajemen sangat menarik untuk dicermati. Perlukah disiplin ilmu baru di bidang ini?. Sebagai contoh, seorang Direktur (D) dilengserkan oleh Presiden Komisaris (PK) suatu badan usaha dengan cara PK menggalang kekuatan dari bawahan, kemudian membentuk opini karyawan secara konspiratif. Dalam proses penggulingan D, proses dan prosedur dikemas sehingga tampak seperti demokratis. Dalam pembahasan manajemen, salah satu fungsinya adalah leading (Allen dalam Soetopo, 1982; Knezevick, 1982). Salah satu tipe kepemimpinan adalah pseudo-demokratis yang prakteknya seperti gambaran contoh tersebut.

  1. POLITIK PENGAWASAN & KONTROL

Ada lagi penulis lain yang menyatakan bahwa pengawasan adalah: “to determine what is accomplished, evaluate it, and apply corrective measures, if needed, to insure result in keeping with the plan” (Terry, 1968). Sedangkan Henry Fayol menyatakan bahwa “controll consist in verifying whether everything occure in conformity with the plan adopted, the instruction issued and principles established”. Dari dua pengertian itu, pengawasan mengandung makna melihat atau mengecek apa yang terjadi, menilai dan dicocokkan dengan rencana semula, perintah-perintah yang telah diberikan dan dicocokkan dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan. M. Manullang (1990) mengartikan pengawasan sebagai proses untuk menetapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan mengoreksi bila perlu, dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula. Mondy dkk. (1986) mengartikan “controlling is the process of comparing actual performance with standards and taking any necessary corrective action”. (pengawasan adalah proses membandingkan unjuk kerja aktual dengan standard yang telah ditetapkan sebelumnya dan melakukan melakukan perbaikan yang diperlukan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat diambil beberapa butir makna pengertian pengawasan sebagai berikut:

  1. Pengawasan merupakan proses aktivitas
  2. Pengawasan berusaha mengecek, menilai, mengoreksi
  3. Kriteria pengecekan adalah rencana, perintah dan prinsip
  4. Tujuan pengawasan adalah mengendalikan dan mengembangkan

  5. kegiatan organisasi.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa tujuan pengawasan adalah preventif dan represif. Preventif mengacu pada pencegahan timbulnya penyimpangan pelaksanaan kerja organisasi dari perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Represif dalam arti usaha mencapai ketaat-azasan dan kedisiplinan men- jalankan setiap aktivitas agar memiliki kepastian hukum dan menetapkan perbaikan jika terdapat penyimpangan.

Dalam melaksanakan pengawasan, ada beberapa tahap yang harus dilalui. Tahap-tahap tersebut menggambarkan proses yang dilakukan dalam melaksanakan pengawasan. Mondy (1986) mengemukakan tiga tahap (“step”) dalam kontrol atau pengawasan: 1) establish standards, 2) evaluate performance, dan 3) take corrective action. Pandangan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan M. Manulang (1990) bahwa fase pengawasan meliputi: 1) menetapkan alat pengukur (standard), 2) mengadakan penilaiaan (evaluate) dan 3) mengadakan tindakan perbaikan (corrective action).

George R. Terry (1982) menyebutkan beberapa alat atau media yang dapat digunakan sebagai bahan pengawasan adalah : 1) Income statement (perhitungan pendapatan dn pengeluaran), 2) controll reports (yaitu kertas laporan yang telah disampaikan kepada atasan), 3) budget summeries (ikhtisar tentang anggaran yang sedang berjalan), 4) ratios (perbandingan antara nilai finansial dengan hasil kerja). Manulang (1990) mengutarakan cara-cara mengawasi dalam mengumpulkan fakta sebagai berikut: 1) Peninjauan (pengamatan – pen) pribadi, 2) Pengawasan melalui laporan lisan, 3) Pengawasan melalui laporan tertulis, dan 4) Pengawasan melalui laporan hal-hal yang bersifat khusus.

Ketika melaksanakan pengawasan/kontrol inilah beberapa teori politik dapat dijadikan dasar, misalnya comparative politics approach, pelibatan pihak lain disarankan, jika menggunakan nonethnocentric approach, semua orang tanpa memperhatikan etnisnya dilibatkan, jika menggunakan democratic system approach, semua orang tanpa memperhatikan aspek apa pun dilibatkan, dan jika menggunakan alternative approach, akademisi dari berbagai disiplin dilibatkan (Wiarda, 1985). Dengan demikian dalam pelaksanaan kontrol/ pengawasan tidak “mban cinde mban ciladan” , menggunakan topeng penghasilan atau income untuk menekan bawahan atau kelompok tertentu, hasilnya apa pun jika kelompokku serba baik dan jika kelompokmu serba jelek, dan hal lain yang dapat panjang jika diinventarisasi di sini. Teori politik dengan pendekatan tersebut di atas sejalan dengan teori manajemen yang sama-sama dilaksanakan secara profesional.

Masih banyak lagi teori-teori politik yang sejalan dengan pelaksanaan manajemen. Kita dan mahasiswa kita perlu mengkajinya sehingga dalam pelaksanaan kerja manajerial di lapangan nantinya tidak akan ditipu dan diombang-ambingkan oleh kemauan praktek politik yang menyimpang dari etika dan prinsip-prinsip politik anak buahnya. Bagaimanakah perkembangan pemikiran semacam ini? Kita semua yang menentukan.

  1. TEORI POLITIK DAN MANAJEMEN

Dalam teori politik modern, pembahasan filosofis, sosiologis, psikologis, historis, dan kultural bahkan ideologis sangat ditekankan (Varma, 1995). Bahkan di dalamnya juga membahas teori sistem (Buckley, 1967), pembuatan keputusan, pembuatan kebijakan, pembagian kekuasaan, konflik dan kooperasi yang hal ini tidak asing lagi dalam dunia manajemen. Aliran-aliran Relativisme moral, Hiperfaktualisme, Positivisme, Behaviorisme, Elitisme, Fasisme, Pluralisme, Demokratisme, Fungsionalisme (Varma, 1995), dan sederet aliran politik modern yang panjang jika disebutkan di sini. Secara teknis Peters dan Alter (1985) membahas birokrasi, hukum, kebebasan, kebijakan publik, partai politik, kelompok-kelompok interes, dan lebih khusus lagi bagaimana melakukan voting (pengambilan suara terbanyak) dan pemilihan (election). Khusus yang terakhir ini, di Program Studi Manajemen kita tidak terlalu banyak didalami, sehingga jika melakukan pemilihan dengan cara voting dilakukan dengan tertutup dengan menggunakan kertas kecil dibagikan kepada peserta yang dilinting, kemudian dibacakan hasilnya. Dalam politik, ada cara pengambilan keputusan dengan voting terbuka, sehingga aspirasi politik secara elegan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Apakah dalam praktek manajemen sudah dilakukan dengan sistem politik yang beraneka ragam? Itu hanya salah satu cara. Cara lainnya dapat didalami banyak dari paduan teori manajemen dan teori politik.

  1. CENDEKIAWAN DALAM POLITIK MANAJEMEN

Cendekiawan adalah orang yang memiliki ciri-ciri bermoral tinggi (termasuk di dalamnya orang yang bergelar akademik), beriman, berilmu, ahli/pakar, memiliki kepekaan sosial, peduli terhadap lingkungan, hati-hati penuh pertimbangan, jujur, rendah hati, adil, dan bijaksana (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, 1985). Konon sifat-sifat itu diambil dari sifat seorang menteri yang bernama Canakya pada zaman Candra Gupta (abad ke 4 Masehi ). Ia cerdas dan pintar, sehingga orang yang cerdas dan pintar dengan sifat-sifat itu berhak menyandang sebutan cendekiawan. Cendekiawan yang memainkan peranannya secara profesional bebas dari keberpihakan kepentingan individual dan kelompok. Satu-satunya keberpihakan cendekiawan adalah kepada nilai-nilai keadilan, keobyektifan/ keapa-adaan, konsistensi, kesistematikan, kearifan, dan nilai-nilai normatif keilmuan lainnya yang bebas dari interes-interesan. Dalam kenyataan hidup, cendekiawan yang diberi tugas di jajaran birokrasi lebih birokratis daripada birokratnya sendiri. Begitu juga sebaliknya birokrat yang diberi tugas di bidang kecendekiawanan lebih arif dan bijaksana daripada cendekiawan aslinya. Hal ini tidak lepas dari pandangan tentang batasan tanggungjawab etis-moral, normatif, dan kesantunan cendekiawan yang justru memberikan ciri karakteristik mereka dalam setiap gerak cendekiawan dalam mewawas berbagai persoalan hidup. Di manakah posisi kita dewasa ini dan yang akan datang? Tentu saja cendekiawan yang berkecimpung dalam mewawas dan mengkaji persoalan manajemen diharapkan memegang teguh ciri-ciri kecendiawanan itu, baru dikatakan sebagai cendekiawan manajemen yang profesional. Di masa mendatang akan muncul cendekiawan politik manajemen yang profesional.

  1. REFLEKSI AKHIR

Ada dua issue pokok yang sengaja disampaikan untuk dipikirkan bersama pada makalah ini:

  1. Perlukah politik manajemen menjadi disiplin ilmu baru yang dibekalkan kepada mahasiswa?

  2. Bagaimanakah posisi cendekiawan dalam mempraktekkan politik manajemen secara profesional dalam kehidupan sehari-hari?

Pengembalian peran profesional cendekiawan dalam praktek kegiatan manajemen menjadi conditio sine qua non dalam kehidupan mereka, sehingga penyimpangan praktek manajemen dan praktek politik manajemen dapat dihindari, sehingga para cendekiawan berjalan secara elegan dalam kehidupan organisasi. Bagaimana?

DAFTAR PUSTAKA

Benda, J. 1997. Pengkhianatan Kaum Cendekiawan. Terjemahan Winarsih P. Arifin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris.

Brewer, J.I. dkk. 1984. Power Management. New Jersey: Prentice Hall Inc.

Buckley, W. 1967. Sociology and Modern System Theory. Englewood Cliff. New Jersey: Prentice Hall.

Gordon, J. R, Mondy, R.W., Sharplin, A. & Premeaux, S.R. 1990. Management and Organizational Behavior. Boston: Allyn and Bacon.

Greenberg, J. & Baron, R. A. 1995. Behavior in Organizations, Under-standing and Managing The Human Side of Work. Englewood Cliffs, NJ.: Prentice Hall, Inc.

Kantaprawira, R. 1988. Sistem Politik Indonesia, Suatu Model Pengantar. Bandung: Sinar Baru.

Manullang, M., 1990, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mondy, R. Wayne, Arthur Sharplin, dan Edwin B.Flippo, 1986, Management, Concepts and Practices, Boston-London-Sydney-Toronto: Allyn and Bacon, Inc.

Nakamura, R.T. dan Smallwood, F. 1980. The Politics of Policy Implementation. New York: St. Martin’s Press.

Peters, C. dan Alter, J. (Ed.). 1985. Inside The System. Englewood Cliffs: Prentice Hall, Inc.

Pigawahi, Markus, 1982, Kepengawasan sebagai Fungsi Organisasi Manajemen Kepala Sekolah, Malang: FIP IKIP Malang.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1985, Kurikulum SMA 1984, Buku IIId, Pedoman

July 28th, 2010

Arti peluang dan manfaat manajemen strategik

ARTI, PELUANG DAN MANFAAT MANAJEMEN STRATEGIK

LATAR BELAKANG

Untuk merealisasikan suatu perencanaan yang baik perlu adanya dukungan dari aspek-aspek pelaksanaan, pengawasan, struktur organisasi, sistem informasi dan komunikasi, motivasi, iklim kerja, sistem penggajian dan budaya organisasi.

Kelemahan perencanaan strategik biasanya bersifat ritual dan mekanis, sifatnya rutin dan sering berpegang pada asumsi-asumsi yang tidak realitis sehingga menyebabkan tidak termonitornya pelaksanaan dan pengendalian dari rencana-rencana yang telah dibuat.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan perencanan strategik diatas maka pada tahun 1980-an muncullah suatu model yang namanya Manajemen Strategik. Model ini mengkombinasikan pola berpikir strategis dalam proses mamajemen. Segala sesuatu yang strategik tidak hanya berhenti pada proses perencanaan saja tetapi juga dilanjutkan pada tingkat operasional dan pengawasan.

Manajemen Strategik juga mencakup trend baru, yaitu:

  1. Peralihan dari perencanaan menjadi keunggulan bersaing

Pembuatan strategi lebih didasarkan pada konsep keunggulan bersaing yang memiliki lima karakteristik, yaitu:

    1. Kompetensi khusus

Keunggulan bersaing merupakan hal khusus yang dimiliki atau dilakukan suatu organisasi yang memberinya kekuatan untuk menghadapi pesaing. Kompetensi ini bisa berwujud opini atau merek yang mempunyai persepsi kualitas tinggi. ( misalnya; opini: Pengelolaan administrasi yang rapi, terkenal bersih atau bebas KKN/Korupsi Kolusi Nepotisme, Tepat waktu. Merek: Coca cola, IBM, BMW, Mc Donald’s).

    1. Menciptakan persaingan tidak sempurna

Dalam persaingan sempurna semua organisasi menghasilkan produk yang serupa sehingga bebas keluar masuk ke dalam pasar. Suatu organisasi dapat memperoleh keunggulan bersaing dengan menciptakan persaingan tidak sempurna yaitu dengan cara memberikan kualitas yang tinggi di aspek-aspek tertentu.

    1. Berkesinambungan

Keunggulan bersaing harus bersifat berkesinambungan bukan sementara dan tidak mudah ditiru oleh para pesaing.

    1. Kesesuaian dengan lingkungan internal

Keunggulan bersaing dapat diraih dengan menyesuaikan kebutuhan atau permintaan pasar. Karena lingkungan eksternal bisa berupa ancaman dan peluang, sehingga perubahan pasar dapat meningkatkan keunggulan atau kelemahan suatu organisasi.

    1. Keuntungan yang tinggi daripada keuntungan rata-rata

Sasaran utama keunggulan bersaing adalah mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi daripada keuntungan rata-rata orrganisasi-organisasi lainnya

  1. Peralihan dari Elitism menjadi Egalitarianism

Berpikir strategik dalam Manajemen Strategik tidak hanya dilakukan oleh para kelompok elit perencana saja, tetapi juga ditanamkan kepada setiap anggota organisasi. Dalam Manajemen Strategik orang yang melakukan perencanaan adalah setiap pihak yang juga akan mengimplementasikan rencana tersebut.

  1. Peralihan dari perhitungan (kalkulasi) menjadi kreativitas

Dalam Manajemen Strategik, strategi-strateginya tidak hanya terfokus pada faktor-faktor yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur saja, tetapi juga mempertimbangkan perspektif yang lebih kualitatif. Strategi lebih banyak tergantung pada aspek perasaan (senses) daripada analisis sehingga dalampenyusunan strategi sangat diperlukan kreatifitas.

  1. Peralihan dari sifat kaku menjadi fleksibel

Manajemen strategik lebih bersifat lentur/fleksibel karena manggabungkan pandangan dan tindakan, menyeimbangkan pengendalian dan learning, serta mengelola stabilitas dan perubahan. Strategi yang dibangun merupakan strategi yag adaptif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan dan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.

ARTI MANAJEMEN STRATEGIK

Manajemen strategik adalah suatu seni dan ilmu dari pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating0 keputusan-keputusan strategis antar fungsi-fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan masa datang.”

Dari definisi tersebut terdapat dua hal penting yang dapat disimpulkan, yaitu:

  1. Manajemen Strategik terdiri atas tiga proses:
    1. Pembuatan Strategi, yang meliputi pengembnagan misi dan tujuan jangka panjang, mengidentifiksikan peluang dan ancaman dari luar serta kekuatan dan kelemahan organisasi, pengembangan alternatif-alternatif strategi dan penentuan strategi yang sesuai untuk diadopsi.
    2. Penerapan strategi meliputi penentuan sasaran-sasaran operasional tahunan, kebijakan organisasi, memotovasi anggota dan mengalokasikan sumber-sumber daya agar strategi yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan.
    3. Evaluasi/Kontrol strategi, mencakup usaha-usaha untuk memonitor seluruh hasil-hasil dari pembuatan dan penerapan strategi, termasuk mengukur kinerja individu dan organisasi serta mengambil langkah-langkah perbaikan jika diperlukan.
  1. Manajemen Strategik memfokuskan pada penyatuan/penggabungan aspek-aspek pemasaran, riset dan pengembangan, keuangan/akuntansi, operasional/produksi dari sebuah organisasi.

Strategik selalu “memberikan sebuah keuntungan”, sehingga apabila proses manajemen yang dilakukan oleh organisasi gagal menciptakan keuntungan bagi organisasi tersebut maka dapat dikatakan proses manajemen tersebut bukan manajemen strategik.

PERBEDAAN STRATEGI DAN TAKTIK

Untuk memudahkan pengertian antara strategi dan taktik, kita bisa menggunakan kata tanya “apa” dan “bagaimana”.

Jika kita akan memutuskan “apa” yang seharusnya kita lakukan maka kita akan memutuskan suatu strategi. Jika kita akan memutuskan “bagaimana” untuk mengerjakan sesuatu maka itulah yang dinamakan taktik. Menurut Drucker, strategi adalah mengerjakan sesuatu yang benar (doing the right things) dan taktik adalah mengerjakan sesuatu dengan benar (doing the things right). Sedangkan menurut Karl Van Clausewits, strategi merupakan suatu seni menggunakan pertempuran untuk memenangkan suatu perang, sedangkan taktik adalah seni menggunakan tentara dalam sebuah pertempuran.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa taktik merupakan penjabaran operasional jangka pendek dari strategi agar strategi tersebut dapat diterapkan. Karena strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan suatu organisasi, maka strategi memiliki beberapa sifat, yaitu :

  1. Menyatu (unified) : menyatukan seluruh bagian-bagian dalam organisasi.
  2. Menyeluruh (comprehensif): mencakup seluruh aspek dalam organisasi.
  3. Integral (integrated) : seluruh strategi akan cocok/sesuai untuk seluruh tingkatan (corporate, business and functional)

MANFAAT MANAJEMEN STRATEGIK

Dengan menggunakan manajemen strategik sebagai suatu kerangka kerja (frame work) untuk menyelesaikan setiap masalah strategis di dalam organisasi terutama berkaitan dengan persaingan, maka peran manajer diajak untuk berpikir lebih kreatif atau berpikir secara strategik.

Pemecahan masalah dengan menghasilkan dan Mempertimbangkan lebih banyak alternatif yang dibangun dari suatu analisa yang lebih teliti akan lebih menjanjikan suatu hasil yang menguntungkan.

Ada bebarapa manfaat yang diperoleh organisasi jika mereka menerapkan manajemen strategik, yaitu:

  1. Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.
  2. Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
  3. Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif
  4. Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkungan yang semakin beresiko.
  5. Aktifitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan untuk mencegah munculnya masalah di masa datang.
  6. Keterlibatan anggota organisasi dalam pembuatan strategi akan lebih memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya.
  7. Aktifitas yang tumpang tindih akan dikurangi
  8. Keengganan untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi.

RESIKO MANAJEMEN STRATEGIK

Keterlibatan para manajer dalam proses perencanaanstrategik akan menimbulkan beberapa resiloyang perlu diperhitungkan sebelum melakukan proses manajemen strategik, yaitu:

  1. Waktu yang digunakan para manajer dalam proses manajemen strategik uingkin mempunyai pengaruh negatif pada tanggung jawab operasional.
  2. Apabila para pembuat strategi tidak dilibatkan secara langsung dalam penerapannya maka mereka dapat mengelak tanggung jawab pribadi untuk keputusan-keputusan yang diambil dalam proses perencanaan.
  3. Akan timbul kekecewan dari para bawahan yang berpartisipasi dalampenerapan strategi karena tidak tercap[ainya tujuan dan harapan mereka.

Untuk mengatasi resiko-resiko tersebut para manajer perlu dilatih mengamankan atau memperkecil timbulnya resiko dengan cara:

  1. Melakukan penjadwalan kewajiban-kewajiban para manajer agar mereka dapat mengalokasikan waktu yang lebih efisien.
  2. Membatasi para manajer pada proses perencanaan untuk mebuat janji-janji mereka terhadap kinerja yang benar-benar dapat dilaksananakan oleh mereka dan bawahannya.
  3. Mengatisipasi dan menanggapi keinginan-keinginan bawahan, misalnya usulan atau peningkatan dalam ganjaran.

nmc.ppk.or.id

    July 28th, 2010

    umm go internasional

    UMM GO TO WORLD CLASS UNIVERSITY

    Mengubah Impian Menjadi Kenyataan”

    Oleh:

    Ir. Suyatno, M.Si.

    (Kepala Lembaga Infokom UMM)

    I. PENDAHULUAN

    Universitas Muhammadiyah Malang saat ini sudah berusia 45 tahun (didirikan tahun 1964). Suatu usia yang masuk dalam kategori mature. Dalam usia yang masuk kategori matang, sudah semestinya UMM mencapai prestasi, baik nasional maupun interasional. Walaupun pada level regional Jawa Timur UMM hampir selalu menjadi PTS yang terbaik, namun pada level nasional belum sepenuhnya menggembirakan, apalagi level dunia.

    Pada saat ini, UMM sudah masuk dalam kategri ”50 Promising Indonesian Universities” yang dikeluarkan oleh DIKTI. Makna dari peringkat ini adalah, UMM diberi kesempatan dan akan difasilitasi oleh DIKTI untuk menjadi World Class University. Menjadi universitas berkelas dunia memang bukan pekerjaan mudah.

    Hasil analisis Renstra UMM 2000-2010, sebetulnya secara tersirat UMM sudah mempunyai cita-cita untuk go international. Namun tidak menunjukkan kapan target tersebut tercapai. Apa yang direncanakan dalam Renstra masih sebatas ”wacana” dan belum dilakukan ”action” yang jelas, sistemik, terarah, terprogram, dan membumi. Analisis eksternal terhadap kompetitor, ternyata beberapa PTN/PTS lain sudah jauh melangkah dengan program-program yang terencana dengan baik.

    Secara riil, posisi UMM secara nasional sudah baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Akreditasi Institusi tahun 2007 yang berhasil memperoleh nilai ”B”. Dibanding PTN-PTN terkenal, memang nilai masih di bawahnya. Namun untuk ukura PTS, nilai tersebut sudah memberi gambaran posisi yang baik bagi UMM. Untuk level regional Kopertis Wilayah VII, UMM sudah dua tahun ini menjadi universitas Terunggul di Jawa Timur dalam hal Tatakelola, Penelitian, Pengabdian pada Masysrakat dan Pengelolaan Mahasiswa. Berbagai prestasi tingkat nasional juga sudah diperoleh UMM, antara lain: menjadi juara dalam ajang kontes robot, Kontes Jembatan Indonesia dan juga Pimnas.

    Bagaimana prestasi UMM pada level internasional? Secara akademik, UMM masih belum masuk dalam beberapa metode perankingan universitas dunia, seperti: Academic Ranking of World Universities (ARWU) yang dapat dilihat di situs: http://www.arwu.org/, The Times Higher Education Supplement (THES) dalam situs: http://www.thes.co.uk/; maupun ranking universitas dunia secara elektronik melalui Webometric (http://www.webometrics.info/).

    Untuk itu, kita tampaknya perlu bekerja lebih keras guna mencapai impian: masuk dalam kategori World Class University. Tulisan ini hanya sekedar pendapat yang barangkali dapat diapesiasi oleh pimpinan UMM sebagai salah satu langkah kecil menuju World Class University.

    II. TENTANG WORLD CLASS UNIVERSITY

    World Class University mempunyai pengertian yang berbeda-beda, baik target maupun criteria penilaiannya. Saat ini beberapa institusi yang telah mantap dan diakui dunia sebagai lembaga pengakreditasi world class university antara lain: THES (The Times Higher Education Supplement (THES) dengan situsnya di: http://www.thes.co.uk/; Academic Ranking of World Universities (ARWU) oleh Institute of Higher Education, Shanghai Jiao Tong University, China yang dapat dilihat di situs: http://www.arwu.org/; dan Webometric (http://www.webometrics.info/). Masing-masing lembaga pengakeditasi mempunyai kriteria dan metodologi penilaian yang berbeda-beda, bahkan sangat berbeda. Beberapa kriteria penting dalam penialain world class university disajikan pada table-tabel berikut:

    Tabel 3. Kriteria Penialain World Class University menurut Webometric

    (Penilaian berdasarkan Website Universitas di Seluruh Dunia)

    No. Kriteria Definisi Bobot (%)
    1 Size (Ukuran) Jumlah halaman referensi tentang universitas (UMM) dan sivitas akademiknya yang dapat didapatkan melalui mesin pencari: Google, Yahoo, Live Search dan Exalead 20
    2. Visibility (Ketertampakan)

    Jumlah link ekternal yang berkaitan dengan universitas dan seluruh sivitas akademiknya yang dapat diakses melalui mesin pencari di atas.

    50

    3.

    Rich Files (Dokumen)

    Ketersediaan dokumen-dokumen dari artikel akademik suatu universitas yang dapat diekstrak dari internet, baik dalam format: Word Document (.doc); Adobe Acrobat (.pdf); Microsoft Power Point (.ppt) maupun Adobe Postcript (.ps).

    15

    4.

    Scholar (Pakar)

    Paper atau karya ilmiah dan kutipan-kutipan yang ditemukan dalam Google  Scholar.

    15

    Total

    100

    Menurut Ditjen Dikti sebagimana tercantum dalam surat Ditjen Dikti No.: 2045/D/T/2007 tanggal 25 Juli 2007, terdapat 34 butir kriteria menjadi World Class University (Tabel 4).

    Tabel 4. Kriteria World Class University menurut Ditjen Dikti (2007)

    Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, posisi UMM hingga tahun 2009 ini masih belum dapat masuk dalam World Class University. Kriteria yang dikeluarkan oleh ARWU jika direfleksikan dengan kondisi internal UMM terasa sangat berat. Hingga saat ini, semua sivitas akademika maupun alumni belum ada satupun yang mampu memenagkan Hadiah Nobel. Selain itu juga tidak satupun artikel ilmiah karya sivitas akademika UMM yang masuk di Jurnal Ilmiah: Nature dan Science. Untuk kriteria yang dikeluarkan oleh THES, walaupun saat ini masih berat, namun jika kita kerja keras dan serius akan dapat tercapai. Kriteria tentang citra internasional dengan indikator: jumlah dosen dan mahasiswa internasional, kualitas riset internasional, angka serapan alumni dan kualitas pengajaran barangkali dapat kita capai. Modal dasar yang dimiliki UMM sudah ada, tinggal bagaimana kita mengembangkan untuk mencapai kualitas yang berkelas internasional. Saat ini, UMM sudah membuka program ACICIS, BIPA, Darma Siswa, American Corner, Iran Corner, dan juga menjadi anggota Konsorsium ERASMUS MUNDUS yang didanai UNI-Eropa sebesar Rp. 77 Milyar.

    Perankingan World Class University yang paling mudah dicapai UMM adalah melalui penilaian WEBSITE UMM, yaitu melalui Webometric. Hingga tahun 2009, UMM belum masuk dalam daftar rilis 6.000 perguruan tinggi top dunia. Ini berarti, UMM belum masuk dalam World Class University versi WEBOMETRIC. Rangking UMM masih di atas 6.000, sehingga belum dimasukkan dalam daftar ranking. Untuk webometric Indonesia, baru 39 perguruan tinggi yang masuk 6.000 universitas top dunia. Ranking webometric yang dirilis bulan Juli 2009 untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

    III. WEBOMETRIC

    Webometric adalah salah satu perangkat untuk mengukur kemajuan perguruan tinggi melalui Websitenya. Sebagai alat ukur (Webomatric) sudah mendapat pengakuan dunia termasuk di Indonesia (sekalipun masih ada yang meragukan tingkat validitasnya). Peringkat Webometric pertama kali diluncurkan pada tahun 2004 oleh Laboratorium Cybermetric milik The Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC). CSIC merupakan lembaga penelitian terbesar di Spanyol. Secara periodik peringkat Webometric akan diterbitkan setiap 6 bulan sekali pada bulan Januari dan Juli. Peringkat ini mengukur lebih dari 16.000 lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia yang terdaftar dalam direktori. Peringkat perguruan tinggi versi Webometric dapat dengan mudah dilihat atau diakses melalui Internet dengan alamat : http://www.webometrics.info/.

    Webometric bukanlah tujuan akhir, namun webometric yang merupakaan pemetaan dari kekuatan perguruan tinggi di bidang Social Networking baik interneal sekaligus ekternal. Apapun tujuan webomteric sangatlah kita hargai untuk memacu perguruan tinggi memacu partisipasinya ke masyarakat luas, salah satunya dari publikasi penelitian.

    Pelopor perangkingan universitas ala Webometrics ini adalah Cybermetrics Lab, sebuah group penelitian dari Centro de Información Documentación (CINDOC) yang merupakan bagian dari National Research Council (CSIC), Spanyol. Mulai melakukan perangkingan universitas pada tahun 2004, dan mempublikasikan rangking universitas setiap enam bulan sekali (bulan Januari dan Juli). Indikator penilaian rangking berbasis Web ini cukup unik, meskipun sebenarnya tetap memiliki hubungan erat dengan ilmu scientometric dan bibliometric.

    Pengukuran Webometric memang hanya menekankan pada publikasi secara elektronik melalui Website, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur peringkat Webometric adalah Size, Visibility, Rich file, dan Scholar. Penjabarannya adalah sebagai berikut :

    1. Size (S) atau Ukuran Website, yaitu jumlah halaman yang terindek oleh empat mesin pencarian utama yaitu :  Google, Yahoo, Live Search dan Exalead.
    2. Visibility (V) atau Ketertampakan Website, yaitu: jumlah keseluruhan  tautan ekternal yang unik  dan terdeteksi oleh  Google search, Yahoo Search, Live Search and Exalead.
    3. Rich Files (R) atau Banyaknya Dokumen, yaitu: banyaknya file yang terdeteksi, khususnya file yang memiliki tingkat relevansi terhadap aktivitas akademik dan publikasi ilmiah, dalam bentuk: Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) dan Microsoft Powerpoint (.ppt).
    4. Scholar (Sc) atau Kepakaran, yaitu: paper atau karya ilmiah dan kutipan-kutipan yang ditemukan dalam Google  Scholar.

    Metode perhitungan nilai webometric adalah menggunakan rumus:

    University Score= (4xV) + (2xS) + (1xR) + (1xSc)

    Dalam meranking, webometic melibatkan beberapa search engine antara lain:

    a. Google

    Mesin pencari yang per desember 2008 telah menguasai 62% pencarian di seluruh dunia.

    b. Yahoo Search

    Yahoo saat ini memiliki daftar direktori yang cukup segmentif, karena selain yahoo melibatkan unsur yang free dalam pendaftaran juga memberikan tarif untuk submitted sekitar $299.

    c. Live Search
    Merupakan mesin pencari group Microsoft.

    Google dan Live search menjadi penting di webometric, karena dominasinya. Saat ini termasuk yang utama karena Google merupakan search default untuk browser Firefox,dan Live search untuk Internet Explorer 7 dan beta 8. Apabila perguruan tinggi ingin mendapatkan peringkat yang lebih tinggi, maka dalam pengelolaan Websitenya harus memperhatikan 4 unsur di atas. Semakin banyak unsur tersebut terpenuhi akan semakin tinggi potensi untuk memperbaiki peringkatnya dan potensi sebuah perguruan tinggi untuk masuk dalam “World Class University” akan semakin terbuka.

    Sayangnya Webometric hanya memunculkan sampai peringkat 6.000 perguruan tinggi dunia. Apabila ada perguruan tinggi yang belum masuk peringkat 6.000 atau di atas 6.000, maka tidak dapat dilihat dalam Webometric. Namun demikian untuk mengetahui tingkat kemajuan Website terutama dari aspek seberapa banyak jumlah yang mengakses dapat dilihat melalui situs dengan alamat:  www.alexa.com. Dari www.alexa.com dapat diketahui “tren” jumlah yang akses terhadap suatu Website. Disamping itu “alexa” juga mengetahui  seberapa jauh kontribusi Website dari masing-masing unit dan lembaga terhadap universitasnya. Misalnya dari domain sebuah PTN dapat diketahui kontribusi digilib dan library, masing mempunyai 13 % dan 7 %, dan lain-lain.

    IV. POSISI UMM DALAM WEBOMETRIC

    Seperti dijelaskan di atas, pada saat ini UMM belum masuk dalam 6.000 perguruan tingggi top dunia. Webometric mempunyai 4 krteria dalam menilai universitas berdasarkan website-nya, yaitu: Ukuran (Size), Ketertampakan (Visiblity), Banyaknya Dokumen (Rich Files) dan Kepakaran (Scholar). Analisis perbandingan rangking dan kriteria yang dimiliki UMM dibanding perguruan tinggi lain di Indonesia tampak dalam gambar berikut:

    Dari gambar di atas tampak bahwa UMM belum masuk dalam daftar rilis webmetric, yaitu masih di posisi di atas 6.000. Analisis lebih lanjut terhadap beberapa kriteria yang ada di webometric, UMM baru memperoleh nilai dari kriteria Size, yaitu dengan nilai 67.500. Jika dibandingkan dengan UGM (1.180.000) dan ITB (1.060.000), maka posisi UMM masih sangat jauh. Bahkan jika dibandingkan dengan Unila saja, nilai UMM masih kurang dari separonya. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran website kita masih jauh dari ideal untuk ukurang world class university.

    Untuk kriteria Rich files, UMM hanya tercatat mempunyai nilai file pdf 31 buah, sedangkan untuk dokumen word (.doc) belum tercatat oleh webometric. Jika dibandingkan dengan nilai file pdf UGM yang mencapai 243.000, maka nilai UMM masih sangat jauh. Kriteria lain (Visibility) dan Scholar, UMM bahkan tidak ternilai sama sekali (karena sangat kecil posisinya, jadi tidak dirilis oleh webomeric).

    Melihat hasil analisis tersebut, maka tampaknya cita-cita UMM untuk menjadi World Class University versi manapun masih membutuhkan kerja sangat keras dari seluruh sivitas akademika. Impian itu bukan mustahil tercapai, asal kita mampu meningkatkan kinerja menuju hasil yang lebih berkualitas.

    V. STRATEGI PENINGKATAN RANKING WEBOMETRIC

    Peningkatan ranking UMM dalam webometric tidak dapat dilakukan dengan cara sepotong-potong (parsial) dan hanya diserahkan pada lembaga tertentu. Pimpinan universitas perlu menelurkan kebijakan khusus untuk mengatrol peringkat UMM dalam webometric. Beberapa universitas dalam negeri sudah melangkah lebih jauh untuk meningktkan peringkat. Universitas Indonesia misalnya, sudah mengeluarkan Surat Edaran khusus untuk meningatkan peringkat di webometric sebagaimana terlihat di bawah ini:

    Selain itu UI juga telah mebentuk tim khusus webometric sejak Mei 2008 dengan susunan sebagai berikut:

    • Prof. Ketut Surajaya (SU)
    • Dr. Ir. Riri Fitri Sari (PPSI)

    • Prof. Dr. Multamia Lauder (Dit Pend)
    • Gatot F Hertono, PhD (PPSP)
    • Dra. Henny S. Widyaningsih, M.Si (Humas & Protokoler)

    • Ir. Adhi Yuniarto MSc (PPSI)

    • Dra. Luki Wijayanti (Perpustakaan Pusat)

    • Donny Gahrial Adian (Perencanaan)

    Tim UI ini mempunyai tugas antara lain:

    1. Mengintegrasikan seluruh website di Fakultas/Departemen/Grup Riset kedalam web site UI, sebagai identitas UI BHMN berbudaya corporate.

    2. Memperbaiki content website dengan informasi yang akurat, reliable dan updating data yang cepat.
    3. Membuat aturan yang mewajibkan seluruh sivitas akademika memanfatkan sistem informasi dan web site UI, antara lain, webmail, weblog, upload materi kuliah, UI-ana yang dapat di download dari Lontar.
    4. Peningkatan referensi ke website UI melalui koordinasi dengan institusi partner dan alumni.

    Contoh lain adalah sebuah PTN yang sudah mebentuk Tim Khusus Webometric yang barangkali dapat digunakan good practices bagi kita. Ilustrasinya sebagai berikut:

    Ada sebuah perguruan tinggi besar dan ternama di Indonesia yang sampai membentuk Tim lengkap dengan struktural yang formal dan ber ST (Surat Tugas) yang terdiri dari para Profesor dan Doktor. Apakah yang terjadi? Mereka mencoba memacu kenaikan rangking Perguruan Tinginya agar ranking di webometric naik drastis.

    Setelah 6 bulan kemudian memang ranking nya naik, sangat signifikan. Setelah diamati ternyata Tim itu telah menaikkan (meng-upload) lebih dari 15.000 file-file dokumen selama 3 bulan, untuk memenuhi  asas R dalam Webometric. (Sumber: http://prayudi.staff.uii.ac.id/files)

    Khusus bagi UMM, beberapa aspek yang terkait dengan upaya peningkatan peringkat UMM dalam webometric antara lain:

    1. Kebijakan penerapan ICT di kampus (Perlu Surat Keputusan Rektor)

    1. Peningkatan kualitas networking (jaringan dan bandwith)

    Untuk bandwidth saat ini sudah sangat cukup, yaitu 10 Mbps. Sedangkan jaringan internet, intranet dan hotspot memang masih sangat perlu ditingkatkan kualitasnya.

    1. Pengembangan website universitas yang dinamis, menyatu, dan lengkap isinya.

    Saat ini Lembaga Infokom sedang dalam proses pengembangan website baru yang dinamis (dapat dikelola siapapun dan dimanapun), menyatu (semua memakai domain ”umm.ac.id”), konten lengkap, dan performan menarik. Website juga memperhatikan dengan cermat semua persyaratan dan kriteria yang dikeluarkan oleh penyelenggara webometric.

    1. Kebijakan bagi peneliti untuk ”diwajibkan” meng-upload naskah publikasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris di DP2M-UMM.

    Semua peneliti (dosen dan mahasiswa) yang difasilitas DP2M UMM perlu diwajibkan meng-upload naskah publikasi dan artikel ilmiah lain ke website UMM, khususnya di Staff Site dan Student Site yang sedang dikembangkan di website umm.ac.id. Seperti di UI, apabila dosen yang selesai penelitian tidak mengup-load di Simpeg dan Lemlit, maka segala sesuatu yang terkait dengan urusan administrasi keuangan dan lain-lain tidak dapat dilakukan.

    1. Meningkatkan kemampuan perpustakaan digital (digilib.umm.ac.id) untuk menambah konten ilmiah (skripsi, tesis, dll.).

    Perpustakaan sebagai ujung tombak dari publikasi ilmiah perlu segera diberi tugas yang lebih besar lagi, yaitu mengembangkan: e-book, e-journal, e-grey literatutre dan e-local content.

    a. Pengembangan E-Book

    Pengembangan koleksi e-book dapat dilakukan dengan pembelian atau pengembangan buku hasil karya dari civitas akademika. Kalau kita mengembangkan koleksi e-book dari pembelian penulis tidak yakin bahwa hal itu akan berpengaruh secara langsung terhadap peringkat Webometric. Namun apabila pengembangan e-book berasal dari hasil karya civitas akademika akan sangat berpengaruh terhadap peringkat Webometric.

    b. Pengembangan E-Journal

    Sama halnya dengan e-book, pengembangan e-journal berlangganan tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap Webometric. Namun pengembangan e-journal milik universitas akan dapat meningkatkan unsur – unsur dalam kriteria Webometric.

    c. Pengembangan E-Grey Literature.

    Grey literature atau literatur kelabu adalah koleksi yang tidak diterbitkan secara luas. Yang termasuk koleksi ini adalah skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Apabila perpustakaan perguruan tinggi sudah medigitalkan koleksi tersebut, potensi untuk meningkatkan peringkat Webometric sangat besar.

    d. Pengembangan E-Local Content

    Sama halnya e-grey literature, e-local content sangat pontensial untuk meningkatkan peringkat Webometric.

    1. Menggalakkan e-learning untuk meningkatkan konten pembelajaran di website.

    UMM sudah mempunyai program e-learning, yaitu melalui ELMU. E-learning juga dikembangkan di pascasarjana, PJJ, TKJ dan lain-lain. Masalahnya adalah: hingga tahun 2009 ini e-laerning masih dimanfaatkan oleh sebagian kecil dosen (< 10%). Selain itu, konten pembelajaran juga belum banyak. Hal ini perlu ditingkatkan lebih jauh lagi untuk meningkatkan konten website, sehingga meningkatkan konten Rich Files, baik .doc; .pdf; maupun .ppt.

    1. Menggalakkan upload artikel ilmiah bagi dosen dan mahasiswa di umm.ac.id

    Perlu dilakukan kampanye besar-besaran tentang meng-upload karya ilmiah bagi dosen dan mahasiswa ke dalam website umm.ac.id, khususnya pada site yang sudah diberikan masing-masing, yaitu staf site dan student site.

    1. Membentuk tim khusus ”webometric” (jika dipandang perlu).

    Bukannya mau mengekor pada PT lain, namun UMM tampaknya sudah saatnya membentuk Tim Khusus Webometric yang terdiri unit-unit strategis guna membantu pimpinan dalam pemetaan, perencanaan, implementasi dan juga melakukan evaluasi secara berkelanjutan terkait dengan website, sehingga peringkat webometric UMM dapat meningkat.

    Demikian tulisan singkat sebagai ”urun rembug” kami dalam rangka meningkatkan peringkat UMM menjadi World Class University. Tanpa perencanaan yang matang dan kerja keras seluruh sivitas akademika, menjadi World Class University bagi UMM hanyalah impian semata yang tak kan pernah dapat digapai. Tetapi dengan upaya bersama, impian mejadi World Class University tentu dapat kita wujudkan. Semoga di bukan Januarai 2010, UMM sudah dapat nongol di peringkat webometric, sebagai salah satu bagian dari world class university. Universitas Berkelas Dunia……

    Malang, 24 Agustus 2009

    Suyatno